IMPLIKASI TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN
BAB I
PENDAHULUAN
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 ayat 1, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang, dilaksanakan guru sebagai pendidik dapat memenuhi amanat peraturan pemerintah tersebut.
Guru sebagai pendidik yang profesional harus mampu berperan sebagai komunikator dan fasilitator bagi peserta didik di dalam kelasnya. Sebagai komunikator seorang guru harus mampu menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada siswa sebagaimana yang dinyatakan oleh Martinis Yamin (2007) bahwa mereka berperan sebagai komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non verbal.
Guru sebagai fasilitator dimaksudkan seorang guru harus mampu menjadi orang yang memfasilitasi atau melayani keperluan peserta didik di dalam kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang disampaikan oleh Martinis Yamin (2007), bahwa guru sebagai fasilitator memiliki peran menfasilitasi siswa-siswa untuk belajar secara maksimal dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media, dan sumber belajar.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka seorang guru yang profesional harus memliki kompetensi-kompetensi atau kemampuan yang terkait dengan tugasnya. Kompetensi-kompetensi tersebut meliputi kemampuan kepribadian, paedagogis, sosial, dan keprofesionalan. Kompetensi-kompetensi akan tercapai apabila guru dapat mengetahui, menghayati, dan menerapkan dalam pembelajarannya teori-teori yang melandasi pembelajaran. Teori-teori ini penting dipahami guru agar pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas dilaksanakn dengan sistematis, terarah dan tersruktur dengan baik.
Banyak teori-teori dan implikasinya dalam pembelajaran yang dikenali orang. Untuk itu maka pembahasan teori belajar dan implikasinya dalam pembelajaran dibatasi hanya membahas 3 hal, yaitu :
- Teori Belajar yang melandasi proses pembelajaran
- Teori Belajar yang melandasi Model Pembelajaran
- Teori Belajar yang melandasi Media Pembelajaran
Tiga hal tersebut dilakukan pembahasannya dikarenakan ketiganya merupakan kesatuan yang penting diperhatikan oleh seorang guru dalam membelajarkan siswa atau peserta didik di dalam kelas. Pembahasan dilakukan dengan menyampaikan ringkasan teori, implikasi dan alternatif contoh yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Satu atau lebih teori dapat saja melandasi salah satu bahasan atau juga dapat melandasi seluruh bahasan.
BAB II
TEORI BELAJAR DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN
A. Teori Belajar yang melandasi Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang, dalam hal ini adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa atau peserta didik. Salah satu peran yang dimiliki oleh seorang guru untuk melalui tahap-tahap ini adalah sebagai fasilitator. Untuk menjadi fasilitator yang baik guru harus berupaya dengan optimal mempersiapkan rancangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak didik, demi mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh E.Mulyasa (2007), bahwa tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik. Untuk mampu melakukan proses pembelajaran ini si guru harus mampu menyiapkan proses pembelajarannya.
Proses pembelajaran yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus memperhatikan teori-teori yang melandasinya, dan bagaimana implikasinya dalam proses pembelajaran. Berikut ini kita akan membahas teori-teori belajar dan implikasinya dalam proses pembelajaran. Teori-teori belajar yang dibahas adalah teori yang dijelaskan oleh bebrapa orang ahli seperti Gagne, Piaget, Bruner, Ausubel dan lain-lain.
1. Teori Gagne
Gagne beranggapan bahwa hirarki belajar itu ada, sehingga penting bagi guru untuk menentukan urutan materi belajar yang harus diberikan. Materi-materi yang berfungsi prasyarat harus diberikan terlebih dahulu. Keberhasilan siswa belajar kemampuan yang lebih tinggi, ditentukan oleh apakah siswa itu memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah atau tidak.
Menurut Gagne ada 8 tipe belajar, yaitu:
- belajar isyarat;
- belajar stimulus respon
- belajar merangkaikan
- belajar aosisasi verbal
- belajar diskriminasi
- belajar konsep
- belajar prinsip/hukum
- belajar pemecahan masalah
Kemampuan manusia sebagai tujuan belajar menurut Gagne dibedakan menjadi 5 kategori, yaitu : (a) keterampilan intelektual; (b) informasi verbal; (c) strategi kognitif; (d) keterampilan motorik; dan (e) sikap
Implikasi teori Gagne di dalam proses pembelajaran
Untuk mencapai hasil belajar yang demikian maka proses belajar mengajar harus memperhatikan kejadian instruksional yang meliputi (1) menarik perhatian, (2) menjelaskan tujuan, (3) mengingat kembali apa yang telah dipelajari, (4) memberikan materi pelajaran, (5) memberi bimbingan belajar, (6) memberi kesempatan, (7) memberi umpan balik tentang benar tidaknya tindakan yang dilakukan, (8) menilai hasil belajar, dan (9) mempertinggi retensi dan transfer.
2. Teori Piaget
Prinsip teori Piaget, (a) manusia tumbuh beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik, kepribadian, sosioemosional, kognitif, dan bahasa; (b) pengetahuan datang melalui tindakan; (c) perkembangan kognitif sebagian besar tergantung seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
Menurut Piaget perkembangan kognitif pada anak secara garis besar sebagai berikut: (a) priode sensori motor (0-2 tahun); (b) priode praoperasional (2-7 tahun); (c) priode operasional konkrit (7-11 tahun); (d) priode operasi formal (11-15 tahun).
Konsep-konsep dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual menurut Piaget, yaitu :
(a) skemata, dipandang sebagai sekumpulan konsep;
(b) asimilasi, peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang sudah dimiliki oleh seseorang;
(c) akomodasi, terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang semula tidak cocok kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi lama; dan
(d) equilibrium (keseimbangan), bila keseimbangan tercapai maka siswa mengenal informasi baru
Implikasi teori Piaget dalam Proses Pembelajaran, yaitu :
a) Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya tetapi juga prosesnya
b) mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam pembelajaran, penyajian pengetahuan jadi tidak mendapat tekanan
c) memaklumi adanya perbedaan individual, maka kegiatan pembelajaran diatur dalam bentuk kelompok kecil
d) peran guru sebagai seorang yang mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman yang luas
3. Teori Bruner
Teori Bruner hampir serupa dengan teori Piaget, Di dalam teorinya Bruner mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak mengikuti 3 tahap representasi yang berurutan, yaitu: (a)enactive representation, segala pengertian anak tergantung kepada responnya; (b) iconic representation, pola berfikir anak tergantung kepada organisasi visual (benda-benda yang konkrit) dan organisasi sensorisnya; dan (c) simbolic reprentation, anak telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal, pada priode ini anak telah mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa.
Berbeda dengan Piaget, Bruner memiliki pandangan yang lain tentang peranan bahasa dalam perkembangan intelektual anak. Bruner berpendapat meskipun bahasa dan pikiran berhubungan, tetapi merupakan dua sistem yang berbeda. Bahasa merupakan alat berfikir dalam yang berbentuk pikiran. Dengan kata lain proses berfikir adalah akibat bahasa dalam yang berlangsung dalam benak siswa.
4. Teori Bruner
Bruner juga berpendapat bahwa kesiapan adalah penguasaan keterampilan sederhana yang memungkinkan seseorang menguasai keterampilan lebih tinggi. Menurut Bruner kita tidak boleh menunggu datangnya kesiapan, tetapi harus membantu tercapainya kesiapan itu. Tugas orang dewasalah mengajarkan kesiapan itu pada anak.
Berhubungan dengan proses belajar Bruner dikenal dengan belajar penemuannya (discovery learning).
Implikasi Teori Bruner dalam proses pembelajaran adalah : (a) menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah; (b) anak akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya; dan (c) dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dadalam benaknya. Untuk itu siswa akan mencoba melakukan sintesis, analisis, menemukan informasi baru dan menyingkirkan informasi yang tak perlu.

Gambar: Anak dihadapkan pada suatu masalah yang membingungkan
5. Teori Ausubel
Ausubel berpendapat bahwa belajar penemuan itu penting, tetapi dalam beberapa situasi tidak efisien, ia lebih menekankan guru sentral, sehingga Ausubel kurang menekankan belajar aktif. Penekanannya pada ekpositorik .Ausubel menekankan pengajaran verbal yang bermakna (meaningful verbal instruction).
Menurut Ausubel, setiap ilmu mempunyai struktur konsep-konsep yang membentuk dasar sistem informasi ilmu tersebut. Semua konsep berhubungan satu sama lain (organiser). Struktur konsep dari setiap bidang dapat diidentifikasi dan diajarkan kepada semua siswa dan menjadi sitem proses informasi mereka yang disebut dengan peta intelektual. Peta intelektual ini dapat digunakan untuk menganalisa domain tertentu dan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan erat dengan aktivitas domain tersebut. Belajar adalah mencocokkan konsep dalam suatu pokok bahasan ke dalam sistem yang dimilikinya untuk kemudian menjadi milikinya dan berguna baginya.
6. Teori Vygotsky
Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya, atau tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development. Zone of proximal development maksudnya adalah perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya. Selanjunta Vygorsky lebih menekankan scaffolding, ytiu memberikan bantuan penuh kepada anak dalam tahap-tahap awal pembelajaran yang kemudian berangsur-angsur dikurangi dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya.
7. Teori Konstruktivis
Ide-ide Piaget, Vygotsky, Bruner dan lain-lain membentuk suatu teori pembelajaran yang dikenal dengan teori konstruktivis. Ide utama teori ini adalah: (a) siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri; (b) agar benar-benar dapat memahami dan dapat menerapkan pengetahuan siswa harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri; (c) belajar adalah proses membangun pengetahuan bukan penyerapan atau absorbsi; dan (d) belajar adalah proses membangun pengetahuan yang selalu diubah secara berkelanjutan melalui asimilasi dan akomodasi informasi baru.
Menurut Suradijono dalam Herawati Susilo (2000), pembelajaran adalah kerja mental aktif, bukan menerima pengajaran dari guru secara pasif. Guru berperanan memberi dukungan, tantangan berfikir,melayani sebagai pelatih namun siswa tetap kunci pembelajaran
Implikasi teori konstruktivis dalam proses pembelajaran adalah :
- memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar hasilnya saja.
- Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran
- Menekankan pembelajaran top-down mulai dari yang komplek ke sederhana, dari pada bottom-up dari yang sederhana bertahap berkembang ke komplek
- Menerapkan pembelajaran koperatif
Illustrasi pada gambar berikut akan memperlihatkan suasana proses belajar yang merupakan implikasi teori kontrusktivisme.

Gambar: Guru sedang menfasilitasi siswa belajar dan belajar dalam kelompok
B. Teori Belajar yang melandasi Model Pembelajaran
1. Teori Belajar sosial (Albert Bandura)
Ada empat (4) fase belajar dari model, yaitu fase perhatian (attentional phase), fase retensi (retention phase), fase produksi (production phase) dan fase motivasi (motivation phase).
- Fase perhatian adalah tahap memberikan perhatian pada suatu model. Seseorang akan memberikan perhatian yang lebih apabila model yang tampil itu menarik, popular atau yang dikagumi. Dalam pembelajaran bisa saja seorang guru berperan sebagai model bagi siswanya. Jika seorang guru menjadi model bagi siswanya maka ia harus tampil dapat dipercaya, memiliki daya tarik, berwibawa, cocok dan dapat ditiru atau diteladani. Sebagaimana pernyataan (Depdiknas:2004) bahwa model harus kelihatan dapat dipercaya, kelihatan cocok dengan kelompok, memberikan standar yang dapat dipercaya debagai pedoman bagi cita-cita si pengamat. Si pengamat yang dimaksudkan adalah siswanya.
- Fase retensi adalah fase yang berperan untuk memberikan pertanda bahwa tingkah laku model tersimpan dalam memori si pengamat. Proses retensi yang penting adalah pengulangan, yaitu pengamat mengulang atau mengingat kembali tampilan modelnya. Selanjutnya guru dapat memberikan pelatihan bagi siswa untuk mengulangi tingkah laku dirinya sebagai model bagi siswa. Hal ini dilakukan untuk memastikan terjadinya retensi jangka panjang
- Fase produksi, fase si model mengamati komponen-komponen urutan tingkah laku si pengamat telah sesuai dengan dirinya. Fase di mana guru mengamati tingkah laku siswanya telah sesuai atau belum dengan tingkah laku yang dicontohkannya. Pada fase ini guru akan memberikan umpan balik kepada siswa pada aspek-aspek yang sudah benar dan melakukan perbaikan pada aspek-aspek yang masih salah.
- Fase motivasi adalah fase penguatan yang diberikan kepada siswa oleh guru. Di dalam kelas fase ini dilakukan dengan memberikan pujian atau angka kepada siswa atas perilaku-perilaku yang sesuai dengan permodelan yang diperlihatkan guru.
Implikasi teori ini ada pada model pembelajaran langsung (direct instruction). Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang bersifat techer center (berpusat kepada guru). Tugas guru membantu siswa menemukan pengetahuan prosedural dan memahami pengetahuan deklaratif. Model pembelajaran ini memiliki sintaks (tingkah laku mengajar) yang terdiri dari:
Fase 1, guru menyampaiakn tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar. (Fase menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa).
Fase2, guru mendemostrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap (fase mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan).
Fase 3, guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal (memberi pelatihan awal)
Fase 4, guru memeriksa keberhasilan siswa melakukan tugas seperti demonstrasi yang telah dilakukan guru (fase mencek pemahaman dan memberikan umpan balik)
Fase 5, guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dan penerapan kepada situasi yang lebih kompleks dalam kehidupan senari-hari (fase lanjutan dan penerapan).
2. Teori Konstruktivisme
Menurut teori ini guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam dirinya. Peran guru adalah memberi kemudahan dalam proses belajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, mengajar siswa menjadi sadar dengan kemampuan dirinya dan menerapkan strategi belajar mereka sendiri.
Implikasi Teori konstruktivisme dapat terlihat dalam model pembelajaran kooperatif (kooperative learning) dan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction).Pembelajaran koperatif adalah pembelajaran yang tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi juga ketrampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Model pembelajaran ini dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Muslimin Ibrahim, dkk:2000).
Model pembelajaran koperatif ini memiliki sintaks, terdiri dari :
Fase1: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar (menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa)
Fase 2: guru menyajikan informasi kepada siswa dengan dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan (menyajikan informasi)
Fase 3: guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan secara transisi secara efisien (mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Fase 4: guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka ( membimbing kelompok kelompok bekerja dan belajar)
Fase 5: guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari tentang atau masing-masing kelompok mempresentasikan kerjanya (evaluasi)
Fase 6: guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok (memberikan penghargaan)
Pembelajaran berbasis masalah (problem based instruction) adalah pembelajaran pembelajaran yang mengharapkan siswa mampu memecahkan masalah dan menerapkan hasil pembelajaran sebelumnya pada situasi yang baru. Sebagaimana pernyataan (Herawati Susilo:2000)pemecahan masalah dianggap sebagai hasil belajar yang paling tinggi karena bila seseorang telah berhasil memecahkan masalahitu, mampu menerapkan cara itu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dan mengetahui jawaban masalahnya.
Model pembelajaran ini dikenal juga dengan model penelitian. Siswa diharapkan mampu melakukan penelitian yang beranjak dari permasalahan yang mereka temukan atau diajukan oleh guru untuk dipecahkan dan diterapkan ke dalam suasana baru. Sehingga pada akhirnya siswa memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Sebagaimana penjelasan (Herawati susilo: 2000) dalam menerapkan model ini seseorang dapat memulai dari sederhana ke kompleks namun bisa dimulai dari masalah yang kompleks untuk selanjutnya diharapkan siswa memiliki keterampilan-keterampilan sederhana.
Sintaks model pembelajaran ini terdiri dari :
Fase1: guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih (orientasi siswa kepada masalah)
Fase 2: guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (mengorganisasikan siswa untuk belajar)
Fase 3 : guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan pemecahan masalah (membimbing penyelidikan individu maupun kelompok
Fase 4: guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan teman (mengembangkan dan menyajikan hasil karya)
Fase 5: guru membantu siswa untuk merefleksi atau mengevaluasi penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan (menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah)
C. Teori Belajar yang melandasi Media Pembelajaran
Pada bagian berikut ini akan dibahas beberapa teori yang melandasi penyusunan media pembelajaran.
1. Kontinum Kongkrit-Abstrak
Ahli psikologi Jerome Bruner, dalam pengembangan teori belajarnya mengemukakan bahwa pengajaran seharusnya dimulai dari pengalaman langsung (enactive) menuju representasi ikonik (seperti penggunaan gambar dan flim) dan baru kemudian menuju representasi simbolik (seperti penggunaan kata-kata atau persamaan-persamaan matematis).
Bruner lebih jauh menyatakan bahwa urutan bagaimana siswa menerima materi ajar memiliki pengaruh langsung pada pencapaian ketuntasan belajar tersbut. Bruner menyatakan bahwa urutan bagaimana siswa menerima materi ajar memiliki pengaruh langsung pada pencapaian ketuntasan belajar tersebut. Bruner menyatakan bahwa hal ini berlaku untuk seluruh pebelajar, bukan hanya anak-anak. Pada saat suatu tugas belajar disajikan pada orang dewasa yang tidak memiliki pengalaman yang relevan dengan tugas itu, pembelajaran akan dipermudah bila pengajaran mengikuti suatu urutan dari pengalaman kongkrit menuju representasi ikonik kemudian menuju representasi abstrak.
Hoban,Hoban, dan Zisman, (dalam Nur 2000), menyatakan bahwa nilai ajar merupakan fungsi dari tingkat kekonkriannya. Mereka menyusun berbagai metode mengajar dalam suatu hirarki tingkat keabstrakan mulai seperti berikut:

Gambar: Hirarki Hoban, Hoban, dan Zisman
Dari gambar di atas tampak bahwa hirarki ini adalah penjabaran lebih lanjut dari Teori Bruner. Edgar Dale dalam (Nur 2000), mengembangkan kerucut pengalaman sebagai berikut:
Simbol
Verbal abstract
Simbol visual
Tape recorder/radio
Film statis
Film gerak iconik
Televisi
Pertunjukan
Karya wisata
Demonstrasi enactive
Pengalaman Dramatik
Pengalaman buatan
Pengalaman langsung
Dari kerucut pengalaman belajar terlihat pengalaman pebelajar akan beranjak dari fase konkrit naik ke fase abstrak. Siswa akan mencapai keberhasilan jika telah membangun sejumlah pengalaman yang lebih konkrit untuk memaknai penyajian realitas yang lebih abstrak. Contohnya dalam mata pelajaran genetika, rambut keriting terlihat nyata begitu juga dengan rambut lurus, gen rambut kriting dan rambut lurus tidak bisa terlihat dengan nyata sehingga hanya dapat dilambangkan dengan simbol-simbol.
Implikasinya dalam mediabelajar adalah media belajar lebih efektif dimulai dari pengalaman langsung sebagai media sebenarnya bertahap menjadi media yang bersifat lebih abstrak.
2. Pandangan Behavioristik
Pandangan ini dipelopori oleh Skinner, dengan teori yang bernama reinforcement theory, sehingga dihasilkannya pembelajaran terprogram. Pembelajaran terprogram adalah teknik yang memandu pembelajaran melalui rangkaian langkah-langkah pembelajaran untuk mencapai tingkat kinerja yang dikehendaki. Setelah tujuan perilaku dirumuskan, dilakukan pembelajaran dengan menyisihkan materi yang tidak langsung berhubungan dengan tujuan.
Implikasinya adalah dengan menyiapkan rancangan pembelajaran haruslah menggunakan media yang benar-benar terstruktur atau terprogram dan sesuai dengan materi pembelajaran.
3. Pandangan kognitivis
Pandangan kognitivis menciptakan model mental pada diri pebelajar tentang memori jangka pendek dan panjang. Informasi baru tersimpan dalam memori jangka pendek sebagi tempat informasi dicerna dengan cara latihan yang diulang-ulang sampai siap disimpan di memori jangka panjang. Pebelajar kemudian menggabungkan informasi dan keterampilan dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif atau keterampilan untuk menangani tugas yang lebih kompleks.
Kognitivis mempunyai pandangan lebih luas tentang pebelajar mandiri dari pada pandangan behavior. Sebenarnya siswa kurang tergantung kepada arahan perancang program tetapi lebih bersandar kepada strategi kognitif mereka sendiri dalam menggunakan media pembelajaran. Contohnya siswa membuat peta konsep sebagai kesimpulan dari pembelajaran dan menayangkannya untuk seluruh kelas.
4. Pandangan Sosial-Psikologikal
Robert Slavin dengan pembelajaran kelompoknya menemukan bahwa pembelajaran kooperatif lebih efektif dan secara sosial lebih bermakna dari pada pembelajaran secara individual. Media pembelajaran akan membantu kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa untuk bersama menemukan kesimpulan pembelajaran.
Implikasi pandangan ini dapat dicontohkan dengan pemberian gambar sistem pencernaan ke dalam sebuah kelompok. Kelompok ditugasi guru untuk menentukan organ-organ penyusun sistem pencernaan dari gambar. Anggota kelompok bersama mengupayakan membuat kesimpulan organ-organ yang menyusun sistem pencernaan.
5. Teori Pembelajaran Sosial
Bandura menyatakan melalui teori pembelajaran sosial seseorang dapat belajar melalui pengamatan terhadap suatu model. Implikasi teori ini pada pembuatan media adalah ketika guru memberikan contoh kepada siswa bagaimana memahami suatu konsep dalam pelajaran IPA melalaui observasi. Hal ini dapat dicontohkan oleh guru dengan memperlihatkan sebatang tumbuhan tomat, siswa disuruh mengamatinya, lalu guru menjelaskan setiap bagian-bagian tumbuhan mulai dari akar, batang dan daun serta bentuk setiap bagian itu. Siswa mengulang kembali penjelasan guru tersebut dengan bahasa mereka sendiri.
6. Teori Pembelajaran kognitif
penekanan teori ini adalah siswa harus sebagai prosesor yang aktif, bukan hanya sebagai penerima informasi yang pasif. Informasi berupa pengetahuan merupakan suatu proses pembentukan dan dalam pembentukannya siswa harus aktif mengaitkan skema-skema yang dimilikinya sehingga pengetahuan dipandang sebagai hasil ciptaan bukan perolehan pengkopian, namun sebagai proses pencaharian makna.
Implikasi teori ini ada dalam penyusunan media oleh guru, sperti menyiapkan media transparansi, bagan/skema, maupun membuat charta dengan karton. Penggunaan media serta cara mengajar yang baik akan membuat siswa aktif terlibat menyusun pengetahuan barunya.
7. Teori Pemrosesan Informasi
Teori Pemrosesan Informasi menyatakan proses belajar yang dialami oleh siswa dapat disamakan dengan proses pemrosesan informasi pada komputer. Informasi yang diterima lewat indera selanjutnya disimpan di dalam memori jangka pendek dan selanjutnya ditransformasikan lagi dan disimpan di memori jangka panjang. Informasi yang telah disimpan di dalam kedua memori itu dapat dipanggil kembali dan dikeluarkan.
Teori Pemrosesan adalah teori kognitif belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kemabali informasi dari otak. Menurut Slavin dalam (Nur, 2000), ada tiga struktur memori manusia, yaitu register penginderaan, memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Informasi yang akan diingat pertama-tama harus sampai pada indera seseorang kemudian di transfer dari register penginderaan, ke memori jangka pendek, selanjutnya diproses lagi untuk ditransfer ke memori jangka panjang.
Menurut Slavin dalam (Nur 2000), persepsi stimuli tidak langsung seperti penerimaan stimuli melainkan juga dipengaruhi oleh status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan dan motivasi seseorang. Memusatkan perhatian siswa pada stimulus yang relevan dengan informasi baru yang menjadi perhatian guru.
Implikasi kedua pendapat di atas terhadap pemilihan media pembelajaran harus memperhatikan sejauh mana media yang disampaikan menarik perhatian siswa sehingga dapat tersimpan dalam memori jangka panjangnya. Jika media yang digunakan lebih menarik akan mempengaruhi mental siswa sehingga tertarik untuk mempelajarinya.
8. Pandangan CTL
CTL atau contextual teching and learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan isi mata pelajaran sesuai dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara, tenaga kerja (Blanchard, 2001)
CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyususn pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.(Elaine B. Jhonson,2007)
Berdasarkan pandangan CTL, benda sebenarnya atau benda nyata adalah media yang fundamental. Sedangkan untuk keperluan memahami detil-detil serta untuk keperluan penyusunan bahan laporan siswa dalam pembelajaran kontekstual serta untuk keperluan penilaian otentik, media visual yang lain seperti poster, transparansi, dan papan tempel dapat digunakan.

Gambar: Siswa sedang menggunakan media nyata dan media sebagai hasil laporan
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Teori belajar yang melandasi proses pembelajaran meliputi teori-teori yang memperhatikan hal-hal yang penting terkait dalam pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh peserta didik dan bimbingan guru. Banyak ahli pendidikan mengeluarkan pendapat sehubungan dengan proses pembelajaran, seperti Gagne, Piaget, Bruner, dan lain-lainnya. Pendapat-pendapat para ahli ini secara keseluruhan dapat dipakai sebagai landasan filosofis oleh seorang guru dalam membelajarkan peserta didiknya. Pendapat-pendapat para ahli ini ada yang terlihat seperti bertentanga satu sama lainnya, tetapi secara totalitas tetap mendukung dan dapat diimplikasikan dalam proses pembelajaran.
Teori-teori belajar dan implikasinya ini dapat juga hanya melandasi proses pembelajaran saja, tetapi juga dapat melandasi model-model pembelajaran yang diterapkan guru dalam pembelajarannya. Selain itu media pembelajaran juga penting diperhatikan landasan teori rancangan dan penggunaannya di dalam kelas agar secara keseluruhan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien, serta tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.
B. Saran-Saran
Guru yang profesional hendaknya benar-benar dapat menghayati teori-teori belajar ini dan melaksanakan pembelajaran di kelas dengan mengimplikasikan teori-teori tersebut. Banyak teori-teori tentang pembelajaran yang telah dikenali hendaknya seorang guru mampu memilih yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, kemampuan diri, sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah dan memperhatikan kebutuhan daerah serta berwawasan nasional dan internasional.
Hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada teori yang lebih baik satu atau lainnya, tetap ada yang memiliki kekurangan dan kelebihan. Tugas guru adalah menentukan teori pembelajaran dan implikasi yang paling sesuai yang digunakan. Dampak-dampak yang timbul selama proses pembelajaran juga harus diperhatikan guru agar dapat melakukan perbaikan secepatnya.
Selamat bertugas wahai guru pahlawan tanpa tanda jasa, semoga amal ibadahmu diterima oleh Yang Maha Kuasa dan dibalas dengan imbalan yang setimpal, amin.
DAFTAR PUSTAKA
…………………., 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Sains Buku 4. Jakarta. Depdiknas
Ibrahim, Muslimim,dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. University Press
Johnson, Elaine B, 2007. Contextual Teaching and Learnng Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Bermakna. Jakarta. MLC
Mulyasa,Ence, 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung. Remaja Rosda Karya
Nur, Muhammad, 2000. Strategi-strategi Belajar. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya
Susilo, Herawati, 2000. Kapita Selekta Pembelajaran Biologi. Jakarta. Universitas Terbuka
Yamin, Martinis, 2007. Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP. Jakarta. Gaung Persada Press