Kebahasaan

April 23, 2010

Kata Sambutan
Perpisahan Siswa Kelas IX SMP Negeri 6 Kota Solok
Tahun Pelajaran 2009-2010
Bismillahirohmanirahim
Assalamualaikum Wr.Wb
Yth. Bapak Kepala Dinas, Kepala Sekolah, Ketua Komite, Majelis guru dan karyawan Tata Usaha serta para undangan kami. Yang kami sayangi siswa-siswa SMP Negeri 6 Kota Solok khususnya siswa kelas IX.
Mengawali kata sambutan ini marilah kita bersama-sama mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia yang diberikan kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul dalam ruangan aula SMK 1 Solok ini untuk melaksanakan acara perpisahan siswa kelas IX SMP Negeri 6 Kota Solok tahun pelajaran 2009-2010. Shalawat dan salam sama-sama kita kirimkan untuk nabi besar Muhammad SAW yang telah meninggalkan suri tauladan buat kita semua dalam menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.
Bapak, Ibu dan anak-anak kami yang berbahagia,
pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada majelis guru dan karyawan serta tata usaha SMP Negeri 6 Kota Solok yang telah memberikan amanah kepada saya untuk menyampaikan kata sambutan perpisahan mewakili Bapak/Ibu semua, semoga kata sambutan yang saya sampaikan berkenan di hati kita semua.
Anak-anak kami kelas IX,
berat rasanya hati kami melepas kalian semua, karena kami merasa masih banyak lagi yang belum terberikan kepada kalian semua, yang mestinya menjadi hak kalian. Kami berharap “satitiak jadikan lauik, sakapa jadikan gunuang” pengetahuan yang telah kalian terima dari kami.Walau masa yang telah kita sepakati bersama mengharuskan kita untuk berpisah. Harapan kami, anak-anak kami semua dapat meninggalkan kami pada tahun 2010 ini dan melanjutkan cita-cita kalian untuk dapat memasuki jenjang pendidikan selanjutnya sesuai dengan harapanmu, orang tua, serta kami guru-gurumu.
Anak-anak kami semua,
Kami gurumu, ibarat pengibar bendera-bendera ke angkasa. Bendera itu adalah kalian semua. Kami berupaya mengibarkan itu setinggi-tingginya hingga sampai ke puncak kejayaan. Kami tidak akan berkecil hati jika suatu saat sang pengibar bendera itu pun akan menghormati bendera yang dikibarkannya. Oleh karena itu kamu semua harus dapat menjadi bendera-bendera yang selalu berkibar dan menentang langit biru melebihi kami guru-gurumu.
Anak-anak kami semua, jika kami nantinya lupa akan namamu karena keterbatasan yang diberikan Allah kepada kita semua, tapi harapan kami kamu semua tidak melupakan kami, kenanglah kami dengan segala sifat kemanusiaan yang kami miliki, insya Allah kami tidak akan melupakan kalian semua karena sesungguhnya kalian adalah bagian dari hidup kami dalam suatu masa.
Anak-anak sekalian pada kesempatan ini kami ingin mengutip kata-kata bijak seorang Khalil Gibran tentang PERPISAHAN …
“Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan – seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran” Jadi akan lebih baik kita berpisah saat ini untuk kami dapat melihat kalian berhasil di masa mendatang. Jadikanlah “alam takambang jadi guru” karena pendidikan tidak selalu dapat diikuti secara formal maka selalulah belajar dari lingkungan hidup. Jadilah yang terbaik di tempatmu berada.

Selamat Jalan anak-anak yang kami sayangi, Doa kami merestui langkahmu,raih cita dan cintamu, berkibarlah di angkasa raya….. Terakhir selaku manusia yang tidak luput dari alpa, maka kami guru-gurumu menyampaikan permintaan maaf kepada kalian semua atas kelalaian yang telah kami perbuat terhadap kalian, sedangkan kesalahan kalian semua telah kami maafkan. Begitu juga kepada orang tua dari anak-nak kami semua melalui Bapak Ketua Komite SMP Negeri 6 Kota Solok kami juga mohon maaf yang sebesar-besar jika ada kelalaian kami terhadap hak-hak anak Bapak.
Terima kasih atas perhatian semua, wabilllahi taufik wal hidayah, wassalam……………….

MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN

June 27, 2009

BAB I

PENDAHULUAN

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 ayat 1, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang, dilaksanakan guru sebagai pendidik dapat memenuhi amanat peraturan pemerintah tersebut.

Proses belajar mengajar adalah proses komunikasi, yaitu penyampaian informasi dari sumber informasi kepada penerima melalui suatu media. Sumber informasi adalah guru dan penerima adalah siswa, serta media adalah segala sesuatu alat bantu yang digunakan untuk memperjelas pemahaman siswa. Ahmad Rohani (1997: 3) menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagai perantara/sarana/alat untuk proses komunikasi (proses belajar mengajar). Selanjutnya Ahmad Rohani (1997:1)menyatakan bahwa dalam proses belajar mengajar, media yang yang digunakan untuk memperlancar komunikasi belajar mengajar disebut media instruksional edukatif.

Guru sebagai pendidik yang profesional harus mampu berperan sebagai komunikator dan fasilitator bagi peserta didik di dalam kelasnya. Sebagai komunikator seorang guru harus mampu menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada siswa sebagaimana yang dinyatakan oleh Martinis Yamin (2007:7) bahwa mereka berperan sebagai komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non verbal.

Guru sebagai fasilitator dimaksudkan seorang guru harus mampu menjadi orang yang memfasilitasi atau melayani keperluan peserta didik di dalam kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang disampaikan oleh Martinis Yamin (2007:10), bahwa guru sebagai fasilitator memiliki peran menfasilitasi siswa-siswa untuk belajar secara maksimal dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media, dan sumber belajar.

Banyak hambatan yang ditemui oleh seorang guru sehubungan dengan fungsinya sebagai komunikator dan fasilitator tersebut. Salah satu faktor hambatan adalah sulitnya melakukan proses komunikasi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Guru kurang mampu menyampaikan pesan pembelajaran kepada siswa. Pembelajaran yang telah dilakukan guru selama ini belum mampu menarik perhatian siswa, sehingga terkesan siswa apatis terhadap materi pelajaran yang disapaikan oleh guru. Akibatnya siswa gagal memahami materi pembelajaran, dan guru mengalami kekecewaan dan ketidak puasan. Hal ini dapat teramati pada saat proses pembelajaran berlangsung, guru telah mengupayakan pembelajaran dengan menggunakan metode-metode yang bervariasi dan juga memanfaatkan media yang ada, tetapi siswa masih kelihatan kurang aktif dan tidak termotivasi. Jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru atau temannya sangat sedikit. Terkadang dalam satu kali tatap muka tak ada sama sekali siswa yang mengajukan pertanyaan. Hal ini mengakibatnya siswa gagal memahami materi pembelajaran, guru mengalami kekecewaan dan ketidak puasan.

Berdasarkan hal tersebut, adanya hambatan yang ditemukan guru dalam proses komunikasi pembelajaran disebabkan oleh kurang tepat dan menariknya media yang ditampilkan atau digunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu perlu dilakukan pemilihan media yang tepat dan menarik perlu dilakukan agar tercapai transfer ilmu pengetahuan dari guru terhadap siswa optimal dan menyenangkan. Sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini maka media yang dapat digunakan adalah multi media.

Menurut Sutisna dalam Chusnul Chotimah (2008: Jawa Pos), bahwa untuk hasil optimal dalam pembelajaran harus menyenangkan dan merangsang imajinasi serta kreativitas siswa. Penggunaan multimetode dan multimedia sangat membantu meningkatkan hasil belajar. Selanjutnya hasil penelitian Sugeng Priyanto (2008) dalam kompas menyimpulkan, dengan menggunakan multi media dalam pengajaran akan membantu mengondisikan suasana yang bisa memaksimalkan proses penerimaan suatu informasi dengan lebih baik.

Selanjutnya M.Suyanto (2005:340) menyatakan aplikasi multimedia antara lain sebagai perangkat lunak pengajaran, memberikan fasilitas untuk mahasiswa atau siswa untuk belajar mengambil keuntungan dari multimedia, belajar jarak jauh dan pemasaran pendidikan. Begitu juga Davies,Crowther dalam M.Suyanto (2005:340) menjelaskan bahwa penggunaan perangkat lunak multimedia dalam proses belajar mengajar akan meningkatkan efisiensi, meningkatkan motivasi, menfasilitasi belajar aktif, menfasilitasi belajar eksperimental, konsisten dengan belajar yang berpusat pada siswa, dan memandu untuk belajar lebih baik.

BAB II

MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN

Pembahasan dan penggunaan multimedia pada saat ini sudah sangat meluas dalam berbagai bidang. Bidang-bidang yang mengaplikasikan multi media meliputi bidang bisnis, hiburan, kesehatan, pemerintahan dan pendidikan. Khusus bidang pendidikan aplikasi multi media sebagai media pembelajaran harus dipahami oleh seorang guru dan digunakan dalam pembelajarannya. Aplikasi multi media dapat berfungsi sebagai alternatif media pembelajaran bagi guru dalam kelasnya.

Pembahasan tentang multi media sangat luas, maka pembahasan ini dibatasi dalam 4 hal yaitu : pengertian multi media dan pembelajaran; multimedia sebagai media pembelajaran; multimedia dan model pembelajaran; dan hambatan dalam pembelajaran multimedia.

2.1 Pengertian Multimedia dalam Pembelajaran

Pengertian multimedia secara sederhana dari dua kata yaitu multi berarti jamak atau banyak dan media berarti perantara atau yang menyampaikan. Pengertian ini berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi sehingga dapat bergeser maknanya dari pengertian kata-kata. Banyak pendapat para ahli tentang pengertian multimedia ini. Berikut adalah beberapa pengertian multimedia.

Menurut Hofstetter dalam M.Suyanto (2005:21), multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi, dan berkomunikasi. Menurut Azhar Arsyad (2007:171), arti multi media yang umumnya dikenal dewasa ini adalah berbagai macam kombinasi grafik, teks, suara, video, dan animasi. Penggabungan ini merupakan suatu kesatuan yang secara bersama-sama menampilkan informasi, pesan atau isi pelajaran. Menurut Geyeski dalam Elmi Mahzum (2008:13), multimedia adalah kumpulan media berasaskan komputer dan sistem komunikasi yang digunakan untuk membangun, menyimpan, menghantar dan menerima informasi berasaskan teks, grafik, audio dan sebaginya.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa multimedia itu mencakup : adanya komputer sebagai basis keseluruhan sistem; adanya informasi dalam berbagai bentuk audiovisual yang diam atau bergerak; interaktif ;pemakai dalam hal pembelajaran adalah guru dan penerima adalah siswa.

2.2 Multimedia sebagai Media Pembelajaran

Multimedia sebagai media pembelajaran tersedia dalam bentuk CD interaktif ataupun presentasi interaktif. Selain itu multimedia ada yang bersifat linear dan non linear. Multimedia interaktif adalah multimedia yang dapat membantu pengguna bisa melihat suatu aplikasi sesuai dengan keinginannya. Multimedia linear adalah multimedia yang dioperasikan tanpa dapat dipengaruhi oleh user (si pengguna), hanya sebagai penonton saja. Multimedia non linear adalah multi media yang dapat dipengaruhi oleh user dalam operasionalnya.

Kedua bentuk multimedia ini dapat digunakan dalam pembelajaran sebagai media pembelajaran, di mana pemakaiannya disesuaikan dengan materi dan karakteristik peserta didik. Guru sebagai komunikator dan fasilitator harus memliki kompetensi sekurang-kurangnya menggunakan aplikasi multimedia sebagi media pembelajaran. Akan lebih baik lagi jika guru mampu membuat aplikasi multimedia ini untuk pembelajarannya. Sebagaimana yang diamanatkan dalam Permen (Peraturan Menteri) Pendidikan Nasiona Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar kompetensi guru bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi inti mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelengaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.

Dalam pembuatan aplikasi pembelajaran menggunakan multimedia, pertama yang harus dilakukan adalah membuat konsep/struktur dari aplikasi tersebut. Pembuatan konsep atau struktur aplikasi ini harus mempertimbangkan hal-hal berikut: sifat interaktif, mutakhir, menarik, mudah dimengerti oleh siswa. Setelah itu baru proses pembuatan aplikasi dilakukan dengan menggunakan software yang diperlukan. Aplikasi multimedia yang dapat digunakan seperti power point, macromedia flash, dan macromedia director.

Menurut Elmi Mahzum (2008: 2), microsoft power point adalah media yang paling banyak digunakan sebagai media presentasi baik oleh korporat maupun oleh kalangan biasa. Power point bila dipelajari dengan seksama dapat dijadikan sebagai media untuk multimedia dalam batas-batas yang sederhana. Macromedia flash adalah microsoft yang lebih baik dari power point, merupakan gabungan konsep pembelaran dengan teknologi audiovisual yang mampu menghasilkan fitur-fitur baru yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan.

Pembuatan konsep/ struktur aplikasi multimedia menuntut kreatifitas dan daya imajinasi yang tinggi agar tujuan yang diharapkan tercapai. Kreatifitas ini dapat dimulai dengan meniru dan memodifikasi, maka dengan sendirinya ide dan kreatifitas akan muncul. Seorang guru dalam membuat multimedia dapat mencari informasi melalui referensi, tutorial, ataupun melalui akses internet.

2.3 Multimedia dan Model Pembelajaran

Dalam multimedia dan model pembelajaran ini akan dibahas bagaimana keterkaitan multimedia dengan model pembelajaran. Rancangan pembelajaran yang dibuat oleh guru guna pelaksanan proses pembelajaran harus memuat media dan model pembelajaran yang digunakan. Media yang dapat digunakan oleh guru di sini adalah multimedia. Model pembelajaran yang menggunakan multimedia dapat mengaplikasikan berbagai model dari model pembelajaran yang telah kita kenal.

Model pembelajaran mengandung makna adanya strategi, prosedur, metode atau cara yang digunakan dalam pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Menurut Depdiknas (2004:2), ada 2 alasan penggunaan model pembelajaran, yaitu (1) adanya penggunaan sejumlah keterampilan metodologis dan prosedural, seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan, melakukanpenelitian, bediskusi, meperdebatkan temuan, bekerja secara kolaboratif, menciptakan karya seni, dan melakukan presentasi; (2) adanya sintaks atau langkah-langkah pembelajaran yang menggambarkan alur proses pembelajaran.

Banyak model pembelajaran yang telah disampaikan oleh para ahli, masing-masing model akan memiliki kelebihan dan kelemahan. Guru harus jeli dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Terkait dengan adanya penggunaan multimedia dalam pembelajaran seorang guru juga harus memiliki kemampuan mengaplikasikan multimedia yang telah dipilih atau dirancang untuk disesuaikan dengan model pembelajaran yang telah ditetapkan dalam rancangan pembelajaran.

Beberapa model pembelajaran disampaikan oleh para ahli pendidikan pada dekade terakhir, seperti model pembelajaran langsung (direct instruction), ekspositori pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran dan lain-lain. Pada pembahasan berikut dibicarakan bagaimana cara mengintegrasikan multimedia ke dalam model-model pembelajaran tersebut.

Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang berpusat pada guru (oriented teacher). Materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa adalah materi pelajaran yang bersifat deklaratif dan prosedural. Hal ini dicontohkan dalam mata pelajaran IPA, untuk memperkenalkan bagian-bagian dan cara penggunaan mikroskop, alat ukur, simulasi kerja suatu alat. Untuk memperjelas informasi dan mempermudah pemahaman siswa, serta antisipasi jika kekurangan alat tersebut di suatu sekolah maka guru dapat menggunakan multimedia. Multimedia yang dirancang dapat menggunakan software power point. Guru membuat rancangan presentasi dalam bentuk power point yang memuat pengetahuan deklaratif dan prosedural yang dilengkapi dengan gambar-gambar dan animasi yang menarik, sehingga mempermudah siswa memahami materi pelajaran. Selain itu juga dipasaran telah tersedia program aplikasi multimedia yang telah jadi, guru hanya menyajikan saja lagi di hadapan siswanya.

Langkah-langkah pembelajaran pembelajaran langsung yang menggunakan multimedia dapat dilaksanakan dengan fase-fase sebagai berikut:

Fase 1, guru menyampaikan tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar. (Fase menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa). Fase ini dilakukan penayangan melalui presentasi power point oleh guru.

Fase2, guru mendemostrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap (fase mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan). Fase ini juga dilakukan penayangan melalui presentasi power point oleh guru.

Fase 3, guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal (memberi pelatihan awal). Seorang siswa diminta untuk mencoba mengulangi presentasi guru dengan bimbingan guru.

Fase 4, guru memeriksa keberhasilan siswa melakukan tugas seperti demonstrasi yang telah dilakukan guru (fase mencek pemahaman dan memberikan umpan balik). Hal ini dilaukan selama siswa presentasi.

Fase 5, guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dan penerapan kepada situasi yang lebih kompleks dalam kehidupan senari-hari (fase lanjutan dan penerapan). Guru meminta siswa lain untuk melakukan kembali presentasi dengan multimedia yang telah disiapkan oleh guru.

Model pembelajaran langsung ini mirip dengan model pembelajaran ekspository yang telah dilakukan Sugeng Priyanto dari Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Unibraw. Setelah pengujian statistik dan dilakukan perbandingan rerata hasil belajar, kelompok yang menggunakan aplikasi multimedia setelah perkuliahan mendapat rerata skor 7.37, sedangkan yang tidak mendapat 6.94. Hasil penelitiannya menunjukkan penggunaan multimedia dalam pengajaran mampu mengondisikan suasana belajar yang mamaksimalkan proses penerimaan suatu informasi dengan lebih baik. Dan model belajar “ekspository teaching” baik, di mana dalam model ini dikenal tiga tahap. Pertama, mengarahkan pelajar pada materi yang akan dipelajari dan membantu mengingat kembali informasi yang terkait. Tahap kedua, materi baru disampaikan dengan memberi ceramah, diskusi film, atau memberi tugas kepada pelajar. Tahap ketiga, dengan menggabungkan informasi baru ke dalam susunan pelajaran yang sudah direncanakan dan memberi kesempatan pelajar melontarkan pertanyaan untuk memperluas pengetahuan terkait. (Kompas.com).

Pembelajaran koperatif (cooperative learning) adalah pembelajaran yang tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi juga ketrampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Model pembelajaran ini dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Muslimin Ibrahim, dkk:2000:2).

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif yang menggunakan multimedia dapat dilaksanakan dengan fase-fase sebagai berikut:

Fase1: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar (menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa)

Fase 2: guru menyajikan informasi kepada siswa dengan dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan (menyajikan informasi), presentasi dengan multimedia

Fase 3: guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan secara transisi secara efisien (mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Fase 4: guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka ( membimbing kelompok kelompok bekerja dan belajar). Tugas dapat diberikan dalam bentuk membuat presentasi secara sederhana dengan multimedia. Hal ini dapat dilakukan jika siswa telah belajar MS Power point dalam pembelajaran mata pelajaran TIK. Fase ini dapat dilakukan jika sekolah telah memiliki laboratorium komputer.

Fase 5: guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari tentang atau masing-masing kelompok mempresentasikan karya kelompoknya (evaluasi) dengan menggunakan komputer dan LCD.

Fase 6: guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok (memberikan penghargaan)

Jika tidak memungkinkan dilakukan pembelajaran seperti model di atas juga dapat dilakukan penugasan rumah siswa membuat presentasi dengan multimedia, dan pada pertemuan tatap muka kelompok siswa hanya mempresentasikan saja.

Model pembelajaran berbasis masalah (problem based instruction) adalah pembelajaran pembelajaran yang mengharapkan siswa mampu memecahkan masalah dan menerapkan hasil pembelajaran sebelumnya pada situasi yang baru. Sebagaimana pernyataan (Herawati Susilo:2000) pemecahan masalah dianggap sebagai hasil belajar yang paling tinggi karena bila seseorang telah berhasil memecahkan masalahitu, mampu menerapkan cara itu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dan mengetahui jawaban masalahnya.

Model pembelajaran ini dikenal juga dengan model penelitian. Siswa diharapkan mampu melakukan penelitian yang beranjak dari permasalahan yang mereka temukan atau diajukan oleh guru untuk dipecahkan dan diterapkan ke dalam suasana baru. Sehingga pada akhirnya siswa memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Sebagaimana penjelasan (Herawati susilo: 2000) dalam menerapkan model ini seseorang dapat memulai dari sederhana ke kompleks namun bisa dimulai dari masalah yang kompleks untuk selanjutnya diharapkan siswa memiliki keterampilan-keterampilan sederhana.

Sintaks model pembelajaran ini terdiri dari :

Fase1: guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih (orientasi siswa kepada masalah)

Fase 2: guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (mengorganisasikan siswa untuk belajar)

Fase 3 : guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan pemecahan masalah (membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Fase 4: guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan teman (mengembangkan dan menyajikan hasil karya) dalam bentuk multimedia

Fase 5: guru membantu siswa untuk merefleksi atau mengevaluasi penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan (menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah)

Berdasarkan penjelasan di atas, untuk berbagai model pembelajaran dapat diaplikasi multimedia. Penggunaan multimedia dalam berbagai model pembelajaran ini dapat dilakukan degan memperhatikan fase-fase atau langkah-langkah pembelajaran. Penggunaan multimedia ini disesuaikan dengan langkah-langkah model pembelajaran tersebut

2.4 Hambatan dalam Penggunaan Multimedia

Penggunaan multimedia dalam pembelajaran sekarang ini dirasakan oleh guru akan banyak membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Banyak kemudahan yang diperoleh, seperti menjelaskan konsep abstrak dapat dijadikan konkrit. Guru dapat mengefesien dan mengefektifkan waktu pembelajaran. Selain itu pembelajaran akan lebih menarik bagi siswa. Informasi atau pesan yang disampaikan oleh guru kepada siswanya melalui multimedia akan lebih mudah dipahami sehingga pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa itu sendiri.

Berdasarkan penjelasan di atas kelihatannya proses dapat berjalan dengan mulus jika multimedia diaplikasikan dalam pembelajaran. Tetapi hambatan tetap ditemukan dalam pengplikasian multimedia ini dalam pembelajaran. Hambatan-hambatan yang ditemukan dapat bersifat teknis, filosofis, dan sosial.

Hambatan yang bersifat teknis dikarenakan adanya masalah teknis, seperti ketersediaan komputer atau laptop dan LCD di sekolah. Ada sekolah yang sama sekali tidak memiliki peralatan ini, meskipun gurunya memiliki kemampuan untuk menggunakan multimedia dalam pembelajarannya. Ada juga sekolah yang telah memiliki peralatan ini tetapi guruya yang belum mampu menggunakan multimedia untuk pembelajarannya. Kadangkala juga ada sekolah yang telah memiliki peralatan dan guru telah mampu menggunakan multimedia, tetapi listrik sebagai sumber energi utama dalam penggunaan peralatan multimedia ini tidak tersedia di kelas.

Hambatan yang bersifat filosofis adalah hambatan yang terkait dengan filosofis pembelajaran. Filosofis pembelajaran terkait dengan teori-teori yang mendasari pembelajaran. Menurut teori pembelajaran konstruktivisme, guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam dirinya. Peran guru adalah memberi kemudahan dalam proses belajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, mengajar siswa menjadi sadar dengan kemampuan dirinya dan menerapkan strategi belajar mereka sendiri. Sementara itu pembelajaran degan multimedia terkesan siswa hanya memperhatikan penayangan-penayangan yang disajikan guru. Kesempatan siswa untuk menyampaikan ide-ide mereka hanya sedikit.

Hal ini dikemukan oleh Marsel Ruben Payong (2001:Sinar Harapan), materi yang berwujud pengetahuan atau keterampilan yang hendak dicapai oleh siswa harus dirancang secara jadi oleh para pengembang instruksional dan dikemas dalam teknologi multimedia ini. Pengetahuan haruslah tidak terstruktur dan dibentuk sendiri oleh siswa. Belajar adalah suatu interpretasi personal terhadap pengalaman dan kenyataan hidup yang dialami.

Selain itu penilaian proses, sebagai penilaian selama proses belajar berlangsung tidak dapat dilaksanakan oleh guru. Selanjutnya untuk mata pelajaran yang bersifat keterampilan, di mana perlu dicermati tahap-tahap kerja yang harus dilakukan siswa juga tidak dapat dilakukan. Hal ini dikarenakan pembelajaran yang menggunakan multimedia disusun dan dirancang biasanya terpusat kepada multimedia itu sendiri.

Hambatan yang bersifat sosial, yaitu hambatan yang besifat hubungan/interaksi antar satu individu dengan individu yang lain. Interaksi yang dimaksudkan adalah interaksi guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan siswa dalam kelas. Interaksi-interaksi ini sangat kecil kemungkinan terjadi saat pembelajaran berlangsung, karena siswa terpusat perhatiannya kepada multimedia itu sendiri. Hal ini juga dikemukakan oleh Marsel Ruben Payong (2008: Sinar Harapan),banyak kritik yang telah dilontarkan terhadap pembelajaran multimedia sebagai pembelajaran yang bersifat isolatif sehingga bertentangan dengan tujuan sosial dari sekolah. Siswa seolah-olah dikondisikan untuk menjadi individualis-individualis dan kontak sosial dengan teman-teman menjadi sesuatu yang asing.

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Multimedia itu mencakup: adanya komputer sebagai basis keseluruhan sistem; adanya informasi dalam berbagai bentuk audiovisual yang diam atau bergerak; interaktif ;pemakai dalam hal pembelajaran adalah guru dan penerima adalah siswa. Multimedia sebagai media pembelajaran tersedia dalam bentuk CD interaktif ataupun presentasi interaktif. Aplikasi multimedia yang dapat digunakan seperti power point, macromedia flash, dan macromedia director. Microsoft power point adalah media yang paling banyak digunakan sebagai media presentasi.

Multimedia dapat digunakan untuk berbagai bentuk model pembelajaran. Menggunakan multimedia dalam berbagai model pembelajaran ini dapat dilakukan degan memperhatikan fase-fase atau langkah-langkah pembelajaran. Penggunaan multimedia ini disesuaikan dengan langkah-langkah model pembelajaran tersebut.

Ada beberapa hambatan ditemukan dalam pengplikasian multimedia dalam pembelajaran. Hambatan-hambatan yang ditemukan dapat bersifat teknis, filosofis, dan sosial.

3.2 Saran-saran

Banyak hambatan yang ditemui oleh seorang guru sehubungan dengan tugasnya sebagai fasilitator dan komunikator ini. Upaya yang dapat dilakukan oleh seorang guru mengatasi hambatan ini adalah dengan mengupayakan media yang dapat merangsang imajinasi serta kreativitas siswa. Salah satu media yang dapat digunakan adalah multimedia. Selain sebagi media, multimedia juga dapat diintegrasikan ke dalam model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajarnya.

Bagi guru yang telah memiliki kemampuan untuk merancang sendiri presentasi dengan multimedia yang akan digunakan pada pembelajarannya akan lebih baik. Jika guru belum memiliki kemampuan untuk merancang sendiri, minimal telah mampu menggunakan presentasi dari berbagai program yang telah tersedia di pasaran.

Pembelajaran yang menggunakan multimedia belum tentu berjalan mulus tanpa hambatan, bisa saja dalam pelaksanaanya ada hambatan-hambatan. Maka di sini diharapkan kejelian guru untuk mencoba mengantisipasi hambatan yang ditemui, sehingga pelaksanaan pembelajaran dengan multimedia tetap berjalan sesuai dengan harapan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

……………….. 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

……………….. 2004. Materi Pelatihan Teintegrasi Sains. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

……………….. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru

……………. Penggunaan Multimedia Terbukti tingkatkan Nilai Siswa. Kompas.com. Rabu, 9 Juli 2008

Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: Penerbit, PT Raja Grafindo Persada

Chotimah, Chusnul. 2008. Macromedia Flash sebagai Media Pembelajaran. Jawa Pos Edisi 21 Januari 2008.

Ibrahim, Muslimin,dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Mahzum, Elmi. 2008. Pengenalan Multimedia. Aceh: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Negeri Surabaya

Payong, Marsel Ruben.2001. Beberapa Masalah dalam Pembelajaran Multimedia.Jakarta:Sinar Harapan

Rohani, Ahmad.1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta : Penerbit, Rineka Cipta

Susilo, Herawati. 2000. Kapita Selekta Pembelajaran Biologi. Jakarta: Universitas Terbuka

MODIFIKASI AUKSANOMETER SEDERHANA

June 19, 2009

I. PENDAHULUAN

Seiring dengan perubahan kurikulum, perkembangan sains, teknologi, dan masyarakat dituntut adanya peningkatan sumber daya manusia. Dalam hal ini guru memiliki peranan penting untuk meningkatkan sumber daya manusia terutama siswanya sendiri. Selain mengajar, mendidik, dan melatih seorang guru profesional harus mampu menjadi fasilitator bagi siswanya. Oleh karena itu seorang guru hendaknya memiliki sifat kreatif, inovatif, dan tidak mudah putus asa. Guru sebagai pendidik bertaggung jawab atas tercapainya suatu kompetensi yang harus dimiliki oleh siswanya. Seorang guru harus mampu meningkatkan pengetahuannya dalam menyediakan pembelajaran dan terampil menggunakannya.

Menurut Permen Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Kompetensi dasar bahwa proses pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran hendaknya seorang guru mampu merancang melaksanakan, dan mengavaluasi pembelajarannya secara efektif. Merancang dan melaksanakan pembelajaran yang efektif dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah mempersiapkan dan menyediakan media atau alat bantu pelajaran sehingga informasi yang disampaikan mudah dipahami oleh siswa. Selain dari itu media juga dapat membuat siswa aktif melakukan pengamatan dalam pembelajaran sebagaimana pernyataan Bandura dalam Depdiknas (2004:11) bahwa pembuatan media pembelajaran dapat memberikan contoh pada siswa bagaimana memahami konsep melalui observasi.

Berdasarkan pengalaman selama ini untuk konsep pertumbuhan makhluk hidup di tingkat SMP, khususnya pada tumbuhan belum tersedia suatu media yang dapat digunakan untuk memperlihatkan bagaimana perubahan yang terjadi pada tumbuhan akibat tumbuhnya. Oleh karena itu guru diharapkan mampu merancang dan menyediakan suatu media yang dapat digunakan untuk pembelajaran konsep pertumbuhan makhluk hidup ini.

Auksanometer adalah suatu alat untuk mengukur pertumbuhan memanjang suatu tanaman, yang terdiri dari system katrol yang dilengkapi jarum penunjuk pada busur skla atau jarum yang dapat menggaris pada silinder pemutar (Ensiklopedi Biologi, 2003:17). Lihat gambar 1.Alat ini tidak ada di laboratorium IPA SMP, sedangkan saat ini alat ini dibutuhkan. Oleh karena itu maka guru diharapkan mampu memodifikasi media yang dapat difungsikan seperti alat tersebut. Media yang dapat dibuat tidak sama persis dengan auksanometer yang sebenarnya, tetapi dapat digunakan siswa untuk melihat pertumbuhan memanjang suatu tanaman. Media tersebut dinamai dengan Model Auksanometer Sederhana.

Sumber: Ensiklopedi Sains

Gambar 1

Pembuatan alat ini dapat dilakukan oleh guru ataupun oleh siswa. Jika guru membuat media ini maka media berfungsi sebagai alat peraga dalam pembelajaran. Jika siswa membuat media ini dalam proses pembelajaran, maka hal ini dapat menjadi bahan untuk penilaian otentik untuk kinerja ilmiahnya.

II. PEMBUATAN AUKSANOMETER SEDERHANA

Alat/Bahan :

  • Papan ukuran 30cm x 15 cm x 1,5 cm (1 lembar)
  • Papan ukuran 30cm x 3cm x 1,5 cm (2 lembar)
  • Penggulung joran kail ( 1 buah)
  • Triplek dibuat seperti busur derajat diameter 30 cm (1 buah)
  • Silinder bekas baterai kecil ( 1 buah), dapat diganti dengan kayu
  • Benang secukupnya
  • Ketan penghalus kayu
  • Gergaji potong
  • Ampelas kayu
  • Cat kayu transparan atau vernis
  • Spidol permanen
  • Busur derajat plastik
  • Penggaris pkastik
  • Mur dan baut

Cara Membuat:

  1. Haluskan permukaan seluruh papan dengan ketam dan potong sesuai dengan ukuran di atas.
  2. Amplas seluruh permukaan papan dan lakukan pengecatan
  3. Buat skala ukuran derajat pada triplek yang berbentuk busur.
  4. Rakit seluruh bahan seperti gambar berikut

Foto: Dokumen Pribadi

Gambar2

  1. Tempelkan penggaris plastik pada tiang

III. PENGGUNAAN AUKSANOMETER SEDERHANA

Auksanometer digunakan untuk mengamati perubahan panjang tanaman. Gunakanlah tanaman yang cepat tumbuh seperti tumbuhan jenis kacang-kacangan. Cara menggunakan auksanometer sederhana adalah sebagai berikut:

  1. Ikatkan ujung benang yang bebas pada tangkai daun paling ujung tanaman.
  2. Posisikan jarum penunjuk pada angka nol dan ujung pemberat pada skala mistar nol.
  3. Usahakan pemberat tergantung bebas
  4. Karena pertumbuhan tanaman maka jarum akan bergerak naik dan pemberat bergerak turun.
  5. Lakukan pengamatan terhada jarum penunjuk dan turunnya pemberat setiap hari pada waktu yang sama, selama beberapa hari yang ditetapkan
  6. Hasil pengamatan dapat ditulis dalam bentuk tabel berikut:

No

Hari ke …

Perubahan

Keterangan

Jarum Penunjuk ( 0 ) Turunnya pemberat

(cm)

1

2

3

4

5

Pertama

Kedua

Ketiga

Keempat

Kelima, dst

0 0

IV. PENUTUP

A. Simpulan

  1. Salah satu upaya guru untuk meningkatkan keprofesionalannya dan hasil belajar siswanya dapat dilakukan dengan pembuatan alat peraga/media pembelajaran.
  2. Pembuatan media pembelajaran ini jika dibuat oleh guru berfungsi sebagai alat peraga dalam pembelajaran.
  3. Pembuatan media yang dilakukan siswa untuk meningkatkan kinerja ilmiahnya.
  4. Pembuatan alat peraga oleh siswa juga dapat dipakai untuk melakukan penilaian secara otentik

B. Saran

  1. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan media ini adalah ;
    1. Jangan membuat beban penggantung/pemberat yang terlalu berat, karena jika terlalu berat maka jarum penunjuk auksanometer bukan oleh gerakan tumbuh tanaman tetapi karena beratnya beban.
    2. Usahakan jarum penunjuk tepat dapat nol, begitu juga dengan pemberat juga tepat di angka nol rol/penggaris
    3. Jika dapat dilakukan pembuatan media yang menarik bagi siswa
    4. Bagi guru wanita biasanya agak kesulitan dengan alat pertukangan, tidak perlu segan-segan untuk minta pertolongan kepada teman pria dalam pembuatan media ini.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

AY, Suroso, dkk, 2003.Ensiklopedi Sains dan Kehidupan. Jakarta. CV Tarity Samudra Berlian

Depdiknas, 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Sains 4. Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

……………….., Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2006. Jakarta

My Family

May 30, 2009

PICT1439

Iqra

May 30, 2009

IQRA

by

Laura Hasiel

For my mom

Enam puluh tahun yang lalu,aku masih anak kecil perempuan, tapi harus sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, yang kadang-kadang terasa sangat berat bagi anak-anak seusiaku itu. Misalnya bila ibuku memasak rendang, yang asli rendang padang , aku harus ikut dalam pengerjaaanya. Kelihatannya enteng-enteng saja tetapi sesungguhnya berat dan melelahkan . Aku harus mengaduk-aduk terus menerus, sampai warnanya coklat yang lama kelamaan akan menghitam. Bisa juga disuruh menjaga nyala api untuk membakar lemang . Semua ini tidaklah sebentar, kadang kala hingga berjam-jam. Namun hal itu aku lakukan dengan sangat senangnya, karena ibuku membebaskanku membaca selama mengaduk rendang atau menjaga api lemang. Jika mengaduk rendang kubawa kursi ke dapur, tangan kiri pegang bacaan , tangan kanan memegang tangkai sendok panjang untuk mengaduk. Sambil mengaduk sambal rendang dalam kuali besar aku membaca.

Kalau menjaga api agak ringan, sebab pembakaran lemang dilakukan di lapangan, disusun berdiri, dan tidak terlalu dekat dengan nyala api. Jadi bisa berdiri di bawah pohon sambil membaca dan mengawasi api. Juga kalau berpergian bersamapun, selalu disuruh membawa bacaan, supaya tidak bosan, jika harus menunggu sesuatu. Seterusnya kesukaan membaca ini aku pelihara dalam rumah tangggku, walau suamiku tak mendukukung. Namun anakku memiliki pikiran yang unik. Takut dengan bapaknya dia punya jalan keluar sendiri. Sebelum berangkat ke sekolah saat dia masih di sekolah dasar, dengan pakaian rapi dia akan masuk kamar kecil sambil menyambar koran pagi itu, padahal dia buka mau buangan, hanya mau membaca koran.

Untuk memenuhi biaya hidup kami punya usaha rumahan, yaitu memotong dan menjual kantong plastik. Saat itu masih menggunakan mesin pemotong secara manual. Semua anggota keluarga dapat melakukan pekerjaan ini, . di saat suamiku keluar rumah, anakku sepakat kerjanya ngebut agar targetnya terpenuhi, agar salah  dapat membaca; dan bila terdengar suara motor datang, anakku bekerja kembali dan bacaan disembunyikan di bawah kedudukannya, jadi tak diketahui oleh suamiku bahwa ada yang telah membaca selama bekerja. Bahkan anakku meletakkan bacaan didepan mesin kerjanya, sambil kerja dia membaca. Hal ini dia bisa lakukan karena dia benar-benar telah cekatan dengan pekerjaannya.

Agar dapat memiliki buku bacaan yang disukainya, anakku rela mengganti uang jajan sekolahnya sebagai pembeli jajanan untuk beli buku. Begitu juga ketika aku dan suamiku mengajaknya untuk makan di luar, dia idak mau ikut makan tapi minta jatah makannya dalam bentuk uang. Uang tersebut dibelikannya buku yang disukainya.

Kini anakku telah berumah tangga dan memiliki tiga orang anak, yang tua telah kuliah, yang kedua masih duduk di bangku SMA, sedangkan yang bungsu saat ini berusia 5 tahun. Anakku kini telah menjadi seorang guru, tanpa pembantu, tetapi tetap bisa membaca. Saat sibungsunya masih menyusu, maka anakku akan membaca sambil menyusui bayinya. Jika tak dapat membaca di siang hari, maka dia akan membaca pada malam hari setelah seluruh urusan rumah tangga selesai dan semua orang telah tidur, anakku kembali membaca 2 atau 3 jam pada dini hari. Begitu cintanya dia akan bacaan, bahkan anaknya yang bungsu itupun memahami kesukaan ibunya ini. Sikecilnya kini telah berusia 5 tahun, tetapi dia memahami kesukaan ibunya ini, ketika dia minta dikeloni untuk tidur, dia mencarikan buku bacaan untuk dibaca ibunyasaat  mengeloninya.

Kenapa guru-guru yang nota bene perempuan lain pada saat ini banyak yang mengeluhkan ”tak punya waktu untuk membaca”. Mengapa mereka tidak mensiasati membaca seperti yang dilakukan anakku? Ataukah memang sebenarnya mereka tidak suka membaca? Pada hal orang bijak pernah berkata ” orang yang membaca tak pernah sendiri”

Benarlah apa yang dinyatakan orang bijak itu. Kini diusiaku yang hampir 70 tahun, aku pulang dan menetap sendiri di kampung tidaklah merasa sepi. Anak-anakku dan adik-adikku mengatakan dengan yakin ” Beliau tidak akan kesepian, asal bisa membaca”. Yah betul begitu adanya, tetapi itu tidaklah gampang dan terjadi tidaklah secara instan.

artikel

May 21, 2009

IMPLIKASI TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN

BAB I

PENDAHULUAN

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 ayat 1, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang, dilaksanakan guru sebagai pendidik dapat memenuhi amanat peraturan pemerintah tersebut.

Guru sebagai pendidik yang profesional harus mampu berperan sebagai komunikator dan fasilitator bagi peserta didik di dalam kelasnya. Sebagai komunikator seorang guru harus mampu menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada siswa sebagaimana yang dinyatakan oleh Martinis Yamin (2007) bahwa mereka berperan sebagai komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non verbal.

Guru sebagai fasilitator dimaksudkan seorang guru harus mampu menjadi orang yang memfasilitasi atau melayani keperluan peserta didik di dalam kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang disampaikan oleh Martinis Yamin (2007), bahwa guru sebagai fasilitator memiliki peran menfasilitasi siswa-siswa untuk belajar secara maksimal dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media, dan sumber belajar.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka seorang guru yang profesional harus memliki kompetensi-kompetensi atau kemampuan yang terkait dengan tugasnya. Kompetensi-kompetensi tersebut meliputi kemampuan kepribadian, paedagogis, sosial, dan keprofesionalan. Kompetensi-kompetensi akan tercapai apabila guru dapat mengetahui, menghayati, dan menerapkan dalam pembelajarannya teori-teori yang melandasi pembelajaran. Teori-teori ini penting dipahami guru agar pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas dilaksanakn dengan sistematis, terarah dan tersruktur dengan baik.

Banyak teori-teori dan implikasinya dalam pembelajaran yang dikenali orang. Untuk itu maka pembahasan teori belajar dan implikasinya dalam pembelajaran dibatasi hanya membahas 3 hal, yaitu :

  1. Teori Belajar yang melandasi proses pembelajaran
  2. Teori Belajar yang melandasi Model Pembelajaran
  3. Teori Belajar yang melandasi Media Pembelajaran

Tiga hal tersebut dilakukan pembahasannya dikarenakan ketiganya merupakan kesatuan yang penting diperhatikan oleh seorang guru dalam membelajarkan siswa atau peserta didik di dalam kelas. Pembahasan dilakukan dengan menyampaikan ringkasan teori, implikasi dan alternatif contoh yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Satu atau lebih teori dapat saja melandasi salah satu bahasan atau juga dapat melandasi seluruh bahasan.

BAB II

TEORI BELAJAR DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

A. Teori Belajar yang melandasi Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang, dalam hal ini adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa atau peserta didik. Salah satu peran yang dimiliki oleh seorang guru untuk melalui tahap-tahap ini adalah sebagai fasilitator. Untuk menjadi fasilitator yang baik guru harus berupaya dengan optimal mempersiapkan rancangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak didik, demi mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh E.Mulyasa (2007), bahwa tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik. Untuk mampu melakukan proses pembelajaran ini si guru harus mampu menyiapkan proses pembelajarannya.

Proses pembelajaran yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus memperhatikan teori-teori yang melandasinya, dan bagaimana implikasinya dalam proses pembelajaran. Berikut ini kita akan membahas teori-teori belajar dan implikasinya dalam proses pembelajaran. Teori-teori belajar yang dibahas adalah teori yang dijelaskan oleh bebrapa orang ahli seperti Gagne, Piaget, Bruner, Ausubel dan lain-lain.

1. Teori Gagne

Gagne beranggapan bahwa hirarki belajar itu ada, sehingga penting bagi guru untuk menentukan urutan materi belajar yang harus diberikan. Materi-materi yang berfungsi prasyarat harus diberikan terlebih dahulu. Keberhasilan siswa belajar kemampuan yang lebih tinggi, ditentukan oleh apakah siswa itu memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah atau tidak.

Menurut Gagne ada 8 tipe belajar, yaitu:

  1. belajar isyarat;
  2. belajar stimulus respon
  3. belajar merangkaikan
  4. belajar aosisasi verbal
  5. belajar diskriminasi
  6. belajar konsep
  7. belajar prinsip/hukum
  8. belajar pemecahan masalah

Kemampuan manusia sebagai tujuan belajar menurut Gagne dibedakan menjadi 5 kategori, yaitu : (a) keterampilan intelektual; (b) informasi verbal; (c) strategi kognitif; (d) keterampilan motorik; dan (e) sikap

Implikasi teori Gagne di dalam proses pembelajaran

Untuk mencapai hasil belajar yang demikian maka proses belajar mengajar harus memperhatikan kejadian instruksional yang meliputi (1) menarik perhatian, (2) menjelaskan tujuan, (3) mengingat kembali apa yang telah dipelajari, (4) memberikan materi pelajaran, (5) memberi bimbingan belajar, (6) memberi kesempatan, (7) memberi umpan balik tentang benar tidaknya tindakan yang dilakukan, (8) menilai hasil belajar, dan (9) mempertinggi retensi dan transfer.

2. Teori Piaget

Prinsip teori Piaget, (a) manusia tumbuh beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik, kepribadian, sosioemosional, kognitif, dan bahasa; (b) pengetahuan datang melalui tindakan; (c) perkembangan kognitif sebagian besar tergantung seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungan.

Menurut Piaget perkembangan kognitif pada anak secara garis besar sebagai berikut: (a) priode sensori motor (0-2 tahun); (b) priode praoperasional (2-7 tahun); (c) priode operasional konkrit (7-11 tahun); (d) priode operasi formal (11-15 tahun).

Konsep-konsep dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual menurut Piaget, yaitu :

(a) skemata, dipandang sebagai sekumpulan konsep;

(b) asimilasi, peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang sudah dimiliki oleh seseorang;

(c) akomodasi, terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang semula tidak cocok kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi lama; dan

(d) equilibrium (keseimbangan), bila keseimbangan tercapai maka siswa mengenal informasi baru

Implikasi teori Piaget dalam Proses Pembelajaran, yaitu :

a) Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya tetapi juga prosesnya

b) mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam pembelajaran, penyajian pengetahuan jadi tidak mendapat tekanan

c) memaklumi adanya perbedaan individual, maka kegiatan pembelajaran diatur dalam bentuk kelompok kecil

d) peran guru sebagai seorang yang mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman yang luas

3. Teori Bruner

Teori Bruner hampir serupa dengan teori Piaget, Di dalam teorinya Bruner mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak mengikuti 3 tahap representasi yang berurutan, yaitu: (a)enactive representation, segala pengertian anak tergantung kepada responnya; (b) iconic representation, pola berfikir anak tergantung kepada organisasi visual (benda-benda yang konkrit) dan organisasi sensorisnya; dan (c) simbolic reprentation, anak telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal, pada priode ini anak telah mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa.

Berbeda dengan Piaget, Bruner memiliki pandangan yang lain tentang peranan bahasa dalam perkembangan intelektual anak. Bruner berpendapat meskipun bahasa dan pikiran berhubungan, tetapi merupakan dua sistem yang berbeda. Bahasa merupakan alat berfikir dalam yang berbentuk pikiran. Dengan kata lain proses berfikir adalah akibat bahasa dalam yang berlangsung dalam benak siswa.

4. Teori Bruner

Bruner juga berpendapat bahwa kesiapan adalah penguasaan keterampilan sederhana yang memungkinkan seseorang menguasai keterampilan lebih tinggi. Menurut Bruner kita tidak boleh menunggu datangnya kesiapan, tetapi harus membantu tercapainya kesiapan itu. Tugas orang dewasalah mengajarkan kesiapan itu pada anak.

Berhubungan dengan proses belajar Bruner dikenal dengan belajar penemuannya (discovery learning).

Implikasi Teori Bruner dalam proses pembelajaran adalah : (a) menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah; (b) anak akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya; dan (c) dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dadalam benaknya. Untuk itu siswa akan mencoba melakukan sintesis, analisis, menemukan informasi baru dan menyingkirkan informasi yang tak perlu.

2009-05-21_171204

Gambar: Anak dihadapkan pada suatu masalah yang membingungkan

5. Teori Ausubel

Ausubel berpendapat bahwa belajar penemuan itu penting, tetapi dalam beberapa situasi tidak efisien, ia lebih menekankan guru sentral, sehingga Ausubel kurang menekankan belajar aktif. Penekanannya pada ekpositorik .Ausubel menekankan pengajaran verbal yang bermakna (meaningful verbal instruction).

Menurut Ausubel, setiap ilmu mempunyai struktur konsep-konsep yang membentuk dasar sistem informasi ilmu tersebut. Semua konsep berhubungan satu sama lain (organiser). Struktur konsep dari setiap bidang dapat diidentifikasi dan diajarkan kepada semua siswa dan menjadi sitem proses informasi mereka yang disebut dengan peta intelektual. Peta intelektual ini dapat digunakan untuk menganalisa domain tertentu dan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan erat dengan aktivitas domain tersebut. Belajar adalah mencocokkan konsep dalam suatu pokok bahasan ke dalam sistem yang dimilikinya untuk kemudian menjadi milikinya dan berguna baginya.

6. Teori Vygotsky

Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya, atau tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development. Zone of proximal development maksudnya adalah perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya. Selanjunta Vygorsky lebih menekankan scaffolding, ytiu memberikan bantuan penuh kepada anak dalam tahap-tahap awal pembelajaran yang kemudian berangsur-angsur dikurangi dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya.

7. Teori Konstruktivis

Ide-ide Piaget, Vygotsky, Bruner dan lain-lain membentuk suatu teori pembelajaran yang dikenal dengan teori konstruktivis. Ide utama teori ini adalah: (a) siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri; (b) agar benar-benar dapat memahami dan dapat menerapkan pengetahuan siswa harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri; (c) belajar adalah proses membangun pengetahuan bukan penyerapan atau absorbsi; dan (d) belajar adalah proses membangun pengetahuan yang selalu diubah secara berkelanjutan melalui asimilasi dan akomodasi informasi baru.

Menurut Suradijono dalam Herawati Susilo (2000), pembelajaran adalah kerja mental aktif, bukan menerima pengajaran dari guru secara pasif. Guru berperanan memberi dukungan, tantangan berfikir,melayani sebagai pelatih namun siswa tetap kunci pembelajaran

Implikasi teori konstruktivis dalam proses pembelajaran adalah :

  1. memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar hasilnya saja.
  2. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran
  3. Menekankan pembelajaran top-down mulai dari yang komplek ke sederhana, dari pada bottom-up dari yang sederhana bertahap berkembang ke komplek
  4. Menerapkan pembelajaran koperatif

Illustrasi pada gambar berikut akan memperlihatkan suasana proses belajar yang merupakan implikasi teori kontrusktivisme.

baraja

Gambar: Guru sedang menfasilitasi siswa belajar dan belajar dalam kelompok

B. Teori Belajar yang melandasi Model Pembelajaran

1. Teori Belajar sosial (Albert Bandura)

Ada empat (4) fase belajar dari model, yaitu fase perhatian (attentional phase), fase retensi (retention phase), fase produksi (production phase) dan fase motivasi (motivation phase).

  1. Fase perhatian adalah tahap memberikan perhatian pada suatu model. Seseorang akan memberikan perhatian yang lebih apabila model yang tampil itu menarik, popular atau yang dikagumi. Dalam pembelajaran bisa saja seorang guru berperan sebagai model bagi siswanya. Jika seorang guru menjadi model bagi siswanya maka ia harus tampil dapat dipercaya, memiliki daya tarik, berwibawa, cocok dan dapat ditiru atau diteladani. Sebagaimana pernyataan (Depdiknas:2004) bahwa model harus kelihatan dapat dipercaya, kelihatan cocok dengan kelompok, memberikan standar yang dapat dipercaya debagai pedoman bagi cita-cita si pengamat. Si pengamat yang dimaksudkan adalah siswanya.
  2. Fase retensi adalah fase yang berperan untuk memberikan pertanda bahwa tingkah laku model tersimpan dalam memori si pengamat. Proses retensi yang penting adalah pengulangan, yaitu pengamat mengulang atau mengingat kembali tampilan modelnya. Selanjutnya guru dapat memberikan pelatihan bagi siswa untuk mengulangi tingkah laku dirinya sebagai model bagi siswa. Hal ini dilakukan untuk memastikan terjadinya retensi jangka panjang
  3. Fase produksi, fase si model mengamati komponen-komponen urutan tingkah laku si pengamat telah sesuai dengan dirinya. Fase di mana guru mengamati tingkah laku siswanya telah sesuai atau belum dengan tingkah laku yang dicontohkannya. Pada fase ini guru akan memberikan umpan balik kepada siswa pada aspek-aspek yang sudah benar dan melakukan perbaikan pada aspek-aspek yang masih salah.
  4. Fase motivasi adalah fase penguatan yang diberikan kepada siswa oleh guru. Di dalam kelas fase ini dilakukan dengan memberikan pujian atau angka kepada siswa atas perilaku-perilaku yang sesuai dengan permodelan yang diperlihatkan guru.

Implikasi teori ini ada pada model pembelajaran langsung (direct instruction). Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang bersifat techer center (berpusat kepada guru). Tugas guru membantu siswa menemukan pengetahuan prosedural dan memahami pengetahuan deklaratif. Model pembelajaran ini memiliki sintaks (tingkah laku mengajar) yang terdiri dari:

Fase 1, guru menyampaiakn tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar. (Fase menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa).

Fase2, guru mendemostrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap (fase mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan).

Fase 3, guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal (memberi pelatihan awal)

Fase 4, guru memeriksa keberhasilan siswa melakukan tugas seperti demonstrasi yang telah dilakukan guru (fase mencek pemahaman dan memberikan umpan balik)

Fase 5, guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dan penerapan kepada situasi yang lebih kompleks dalam kehidupan senari-hari (fase lanjutan dan penerapan).

2. Teori Konstruktivisme

Menurut teori ini guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam dirinya. Peran guru adalah memberi kemudahan dalam proses belajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, mengajar siswa menjadi sadar dengan kemampuan dirinya dan menerapkan strategi belajar mereka sendiri.

Implikasi Teori konstruktivisme dapat terlihat dalam model pembelajaran kooperatif (kooperative learning) dan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction).Pembelajaran koperatif adalah pembelajaran yang tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi juga ketrampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Model pembelajaran ini dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Muslimin Ibrahim, dkk:2000).

Model pembelajaran koperatif ini memiliki sintaks, terdiri dari :

Fase1: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar (menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa)

Fase 2: guru menyajikan informasi kepada siswa dengan dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan (menyajikan informasi)

Fase 3: guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan secara transisi secara efisien (mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Fase 4: guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka ( membimbing kelompok kelompok bekerja dan belajar)

Fase 5: guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari tentang atau masing-masing kelompok mempresentasikan kerjanya (evaluasi)

Fase 6: guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok (memberikan penghargaan)

Pembelajaran berbasis masalah (problem based instruction) adalah pembelajaran pembelajaran yang mengharapkan siswa mampu memecahkan masalah dan menerapkan hasil pembelajaran sebelumnya pada situasi yang baru. Sebagaimana pernyataan (Herawati Susilo:2000)pemecahan masalah dianggap sebagai hasil belajar yang paling tinggi karena bila seseorang telah berhasil memecahkan masalahitu, mampu menerapkan cara itu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dan mengetahui jawaban masalahnya.

Model pembelajaran ini dikenal juga dengan model penelitian. Siswa diharapkan mampu melakukan penelitian yang beranjak dari permasalahan yang mereka temukan atau diajukan oleh guru untuk dipecahkan dan diterapkan ke dalam suasana baru. Sehingga pada akhirnya siswa memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Sebagaimana penjelasan (Herawati susilo: 2000) dalam menerapkan model ini seseorang dapat memulai dari sederhana ke kompleks namun bisa dimulai dari masalah yang kompleks untuk selanjutnya diharapkan siswa memiliki keterampilan-keterampilan sederhana.

Sintaks model pembelajaran ini terdiri dari :

Fase1: guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih (orientasi siswa kepada masalah)

Fase 2: guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (mengorganisasikan siswa untuk belajar)

Fase 3 : guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan pemecahan masalah (membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Fase 4: guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan teman (mengembangkan dan menyajikan hasil karya)

Fase 5: guru membantu siswa untuk merefleksi atau mengevaluasi penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan (menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah)

C. Teori Belajar yang melandasi Media Pembelajaran

Pada bagian berikut ini akan dibahas beberapa teori yang melandasi penyusunan media pembelajaran.

1. Kontinum Kongkrit-Abstrak

Ahli psikologi Jerome Bruner, dalam pengembangan teori belajarnya mengemukakan bahwa pengajaran seharusnya dimulai dari pengalaman langsung (enactive) menuju representasi ikonik (seperti penggunaan gambar dan flim) dan baru kemudian menuju representasi simbolik (seperti penggunaan kata-kata atau persamaan-persamaan matematis).

Bruner lebih jauh menyatakan bahwa urutan bagaimana siswa menerima materi ajar memiliki pengaruh langsung pada pencapaian ketuntasan belajar tersbut. Bruner menyatakan bahwa urutan bagaimana siswa menerima materi ajar memiliki pengaruh langsung pada pencapaian ketuntasan belajar tersebut. Bruner menyatakan bahwa hal ini berlaku untuk seluruh pebelajar, bukan hanya anak-anak. Pada saat suatu tugas belajar disajikan pada orang dewasa yang tidak memiliki pengalaman yang relevan dengan tugas itu, pembelajaran akan dipermudah bila pengajaran mengikuti suatu urutan dari pengalaman kongkrit menuju representasi ikonik kemudian menuju representasi abstrak.

Hoban,Hoban, dan Zisman, (dalam Nur 2000), menyatakan bahwa nilai ajar merupakan fungsi dari tingkat kekonkriannya. Mereka menyusun berbagai metode mengajar dalam suatu hirarki tingkat keabstrakan mulai seperti berikut:

hoban

Gambar: Hirarki Hoban, Hoban, dan Zisman

Dari gambar di atas tampak bahwa hirarki ini adalah penjabaran lebih lanjut dari Teori Bruner. Edgar Dale dalam (Nur 2000), mengembangkan kerucut pengalaman sebagai berikut:

Simbol

Verbal abstract

Simbol visual

Tape recorder/radio

Film statis

Film gerak iconik

Televisi

Pertunjukan

Karya wisata

Demonstrasi enactive

Pengalaman Dramatik

Pengalaman buatan

Pengalaman langsung

Dari kerucut pengalaman belajar terlihat pengalaman pebelajar akan beranjak dari fase konkrit naik ke fase abstrak. Siswa akan mencapai keberhasilan jika telah membangun sejumlah pengalaman yang lebih konkrit untuk memaknai penyajian realitas yang lebih abstrak. Contohnya dalam mata pelajaran genetika, rambut keriting terlihat nyata begitu juga dengan rambut lurus, gen rambut kriting dan rambut lurus tidak bisa terlihat dengan nyata sehingga hanya dapat dilambangkan dengan simbol-simbol.

Implikasinya dalam mediabelajar adalah media belajar lebih efektif dimulai dari pengalaman langsung sebagai media sebenarnya bertahap menjadi media yang bersifat lebih abstrak.

2. Pandangan Behavioristik

Pandangan ini dipelopori oleh Skinner, dengan teori yang bernama reinforcement theory, sehingga dihasilkannya pembelajaran terprogram. Pembelajaran terprogram adalah teknik yang memandu pembelajaran melalui rangkaian langkah-langkah pembelajaran untuk mencapai tingkat kinerja yang dikehendaki. Setelah tujuan perilaku dirumuskan, dilakukan pembelajaran dengan menyisihkan materi yang tidak langsung berhubungan dengan tujuan.

Implikasinya adalah dengan menyiapkan rancangan pembelajaran haruslah menggunakan media yang benar-benar terstruktur atau terprogram dan sesuai dengan materi pembelajaran.

3. Pandangan kognitivis

Pandangan kognitivis menciptakan model mental pada diri pebelajar tentang memori jangka pendek dan panjang. Informasi baru tersimpan dalam memori jangka pendek sebagi tempat informasi dicerna dengan cara latihan yang diulang-ulang sampai siap disimpan di memori jangka panjang. Pebelajar kemudian menggabungkan informasi dan keterampilan dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif atau keterampilan untuk menangani tugas yang lebih kompleks.

Kognitivis mempunyai pandangan lebih luas tentang pebelajar mandiri dari pada pandangan behavior. Sebenarnya siswa kurang tergantung kepada arahan perancang program tetapi lebih bersandar kepada strategi kognitif mereka sendiri dalam menggunakan media pembelajaran. Contohnya siswa membuat peta konsep sebagai kesimpulan dari pembelajaran dan menayangkannya untuk seluruh kelas.

4. Pandangan Sosial-Psikologikal

Robert Slavin dengan pembelajaran kelompoknya menemukan bahwa pembelajaran kooperatif lebih efektif dan secara sosial lebih bermakna dari pada pembelajaran secara individual. Media pembelajaran akan membantu kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa untuk bersama menemukan kesimpulan pembelajaran.

Implikasi pandangan ini dapat dicontohkan dengan pemberian gambar sistem pencernaan ke dalam sebuah kelompok. Kelompok ditugasi guru untuk menentukan organ-organ penyusun sistem pencernaan dari gambar. Anggota kelompok bersama mengupayakan membuat kesimpulan organ-organ yang menyusun sistem pencernaan.

5. Teori Pembelajaran Sosial

Bandura menyatakan melalui teori pembelajaran sosial seseorang dapat belajar melalui pengamatan terhadap suatu model. Implikasi teori ini pada pembuatan media adalah ketika guru memberikan contoh kepada siswa bagaimana memahami suatu konsep dalam pelajaran IPA melalaui observasi. Hal ini dapat dicontohkan oleh guru dengan memperlihatkan sebatang tumbuhan tomat, siswa disuruh mengamatinya, lalu guru menjelaskan setiap bagian-bagian tumbuhan mulai dari akar, batang dan daun serta bentuk setiap bagian itu. Siswa mengulang kembali penjelasan guru tersebut dengan bahasa mereka sendiri.

6. Teori Pembelajaran kognitif

penekanan teori ini adalah siswa harus sebagai prosesor yang aktif, bukan hanya sebagai penerima informasi yang pasif. Informasi berupa pengetahuan merupakan suatu proses pembentukan dan dalam pembentukannya siswa harus aktif mengaitkan skema-skema yang dimilikinya sehingga pengetahuan dipandang sebagai hasil ciptaan bukan perolehan pengkopian, namun sebagai proses pencaharian makna.

Implikasi teori ini ada dalam penyusunan media oleh guru, sperti menyiapkan media transparansi, bagan/skema, maupun membuat charta dengan karton. Penggunaan media serta cara mengajar yang baik akan membuat siswa aktif terlibat menyusun pengetahuan barunya.

7. Teori Pemrosesan Informasi

Teori Pemrosesan Informasi menyatakan proses belajar yang dialami oleh siswa dapat disamakan dengan proses pemrosesan informasi pada komputer. Informasi yang diterima lewat indera selanjutnya disimpan di dalam memori jangka pendek dan selanjutnya ditransformasikan lagi dan disimpan di memori jangka panjang. Informasi yang telah disimpan di dalam kedua memori itu dapat dipanggil kembali dan dikeluarkan.

Teori Pemrosesan adalah teori kognitif belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kemabali informasi dari otak. Menurut Slavin dalam (Nur, 2000), ada tiga struktur memori manusia, yaitu register penginderaan, memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Informasi yang akan diingat pertama-tama harus sampai pada indera seseorang kemudian di transfer dari register penginderaan, ke memori jangka pendek, selanjutnya diproses lagi untuk ditransfer ke memori jangka panjang.

Menurut Slavin dalam (Nur 2000), persepsi stimuli tidak langsung seperti penerimaan stimuli melainkan juga dipengaruhi oleh status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan dan motivasi seseorang. Memusatkan perhatian siswa pada stimulus yang relevan dengan informasi baru yang menjadi perhatian guru.

Implikasi kedua pendapat di atas terhadap pemilihan media pembelajaran harus memperhatikan sejauh mana media yang disampaikan menarik perhatian siswa sehingga dapat tersimpan dalam memori jangka panjangnya. Jika media yang digunakan lebih menarik akan mempengaruhi mental siswa sehingga tertarik untuk mempelajarinya.

8. Pandangan CTL

CTL atau contextual teching and learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan isi mata pelajaran sesuai dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara, tenaga kerja (Blanchard, 2001)

CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyususn pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.(Elaine B. Jhonson,2007)

Berdasarkan pandangan CTL, benda sebenarnya atau benda nyata adalah media yang fundamental. Sedangkan untuk keperluan memahami detil-detil serta untuk keperluan penyusunan bahan laporan siswa dalam pembelajaran kontekstual serta untuk keperluan penilaian otentik, media visual yang lain seperti poster, transparansi, dan papan tempel dapat digunakan.

2009-05-21_172813

Gambar: Siswa sedang menggunakan media nyata dan media sebagai hasil laporan

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Teori belajar yang melandasi proses pembelajaran meliputi teori-teori yang memperhatikan hal-hal yang penting terkait dalam pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh peserta didik dan bimbingan guru. Banyak ahli pendidikan mengeluarkan pendapat sehubungan dengan proses pembelajaran, seperti Gagne, Piaget, Bruner, dan lain-lainnya. Pendapat-pendapat para ahli ini secara keseluruhan dapat dipakai sebagai landasan filosofis oleh seorang guru dalam membelajarkan peserta didiknya. Pendapat-pendapat para ahli ini ada yang terlihat seperti bertentanga satu sama lainnya, tetapi secara totalitas tetap mendukung dan dapat diimplikasikan dalam proses pembelajaran.

Teori-teori belajar dan implikasinya ini dapat juga hanya melandasi proses pembelajaran saja, tetapi juga dapat melandasi model-model pembelajaran yang diterapkan guru dalam pembelajarannya. Selain itu media pembelajaran juga penting diperhatikan landasan teori rancangan dan penggunaannya di dalam kelas agar secara keseluruhan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien, serta tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.

B. Saran-Saran

Guru yang profesional hendaknya benar-benar dapat menghayati teori-teori belajar ini dan melaksanakan pembelajaran di kelas dengan mengimplikasikan teori-teori tersebut. Banyak teori-teori tentang pembelajaran yang telah dikenali hendaknya seorang guru mampu memilih yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, kemampuan diri, sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah dan memperhatikan kebutuhan daerah serta berwawasan nasional dan internasional.

Hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada teori yang lebih baik satu atau lainnya, tetap ada yang memiliki kekurangan dan kelebihan. Tugas guru adalah menentukan teori pembelajaran dan implikasi yang paling sesuai yang digunakan. Dampak-dampak yang timbul selama proses pembelajaran juga harus diperhatikan guru agar dapat melakukan perbaikan secepatnya.

Selamat bertugas wahai guru pahlawan tanpa tanda jasa, semoga amal ibadahmu diterima oleh Yang Maha Kuasa dan dibalas dengan imbalan yang setimpal, amin.

DAFTAR PUSTAKA

…………………., 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Sains Buku 4. Jakarta. Depdiknas

Ibrahim, Muslimim,dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. University Press

Johnson, Elaine B, 2007. Contextual Teaching and Learnng Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Bermakna. Jakarta. MLC

Mulyasa,Ence, 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung. Remaja Rosda Karya

Nur, Muhammad, 2000. Strategi-strategi Belajar. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya

Susilo, Herawati, 2000. Kapita Selekta Pembelajaran Biologi. Jakarta. Universitas Terbuka

Yamin, Martinis, 2007. Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP. Jakarta. Gaung Persada Press

Hello world!

April 3, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.