IQRA
by
Laura Hasiel
For my mom
Enam puluh tahun yang lalu,aku masih anak kecil perempuan, tapi harus sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, yang kadang-kadang terasa sangat berat bagi anak-anak seusiaku itu. Misalnya bila ibuku memasak rendang, yang asli rendang padang , aku harus ikut dalam pengerjaaanya. Kelihatannya enteng-enteng saja tetapi sesungguhnya berat dan melelahkan . Aku harus mengaduk-aduk terus menerus, sampai warnanya coklat yang lama kelamaan akan menghitam. Bisa juga disuruh menjaga nyala api untuk membakar lemang . Semua ini tidaklah sebentar, kadang kala hingga berjam-jam. Namun hal itu aku lakukan dengan sangat senangnya, karena ibuku membebaskanku membaca selama mengaduk rendang atau menjaga api lemang. Jika mengaduk rendang kubawa kursi ke dapur, tangan kiri pegang bacaan , tangan kanan memegang tangkai sendok panjang untuk mengaduk. Sambil mengaduk sambal rendang dalam kuali besar aku membaca.
Kalau menjaga api agak ringan, sebab pembakaran lemang dilakukan di lapangan, disusun berdiri, dan tidak terlalu dekat dengan nyala api. Jadi bisa berdiri di bawah pohon sambil membaca dan mengawasi api. Juga kalau berpergian bersamapun, selalu disuruh membawa bacaan, supaya tidak bosan, jika harus menunggu sesuatu. Seterusnya kesukaan membaca ini aku pelihara dalam rumah tangggku, walau suamiku tak mendukukung. Namun anakku memiliki pikiran yang unik. Takut dengan bapaknya dia punya jalan keluar sendiri. Sebelum berangkat ke sekolah saat dia masih di sekolah dasar, dengan pakaian rapi dia akan masuk kamar kecil sambil menyambar koran pagi itu, padahal dia buka mau buangan, hanya mau membaca koran.
Untuk memenuhi biaya hidup kami punya usaha rumahan, yaitu memotong dan menjual kantong plastik. Saat itu masih menggunakan mesin pemotong secara manual. Semua anggota keluarga dapat melakukan pekerjaan ini, . di saat suamiku keluar rumah, anakku sepakat kerjanya ngebut agar targetnya terpenuhi, agar salah dapat membaca; dan bila terdengar suara motor datang, anakku bekerja kembali dan bacaan disembunyikan di bawah kedudukannya, jadi tak diketahui oleh suamiku bahwa ada yang telah membaca selama bekerja. Bahkan anakku meletakkan bacaan didepan mesin kerjanya, sambil kerja dia membaca. Hal ini dia bisa lakukan karena dia benar-benar telah cekatan dengan pekerjaannya.
Agar dapat memiliki buku bacaan yang disukainya, anakku rela mengganti uang jajan sekolahnya sebagai pembeli jajanan untuk beli buku. Begitu juga ketika aku dan suamiku mengajaknya untuk makan di luar, dia idak mau ikut makan tapi minta jatah makannya dalam bentuk uang. Uang tersebut dibelikannya buku yang disukainya.
Kini anakku telah berumah tangga dan memiliki tiga orang anak, yang tua telah kuliah, yang kedua masih duduk di bangku SMA, sedangkan yang bungsu saat ini berusia 5 tahun. Anakku kini telah menjadi seorang guru, tanpa pembantu, tetapi tetap bisa membaca. Saat sibungsunya masih menyusu, maka anakku akan membaca sambil menyusui bayinya. Jika tak dapat membaca di siang hari, maka dia akan membaca pada malam hari setelah seluruh urusan rumah tangga selesai dan semua orang telah tidur, anakku kembali membaca 2 atau 3 jam pada dini hari. Begitu cintanya dia akan bacaan, bahkan anaknya yang bungsu itupun memahami kesukaan ibunya ini. Sikecilnya kini telah berusia 5 tahun, tetapi dia memahami kesukaan ibunya ini, ketika dia minta dikeloni untuk tidur, dia mencarikan buku bacaan untuk dibaca ibunyasaat mengeloninya.
Kenapa guru-guru yang nota bene perempuan lain pada saat ini banyak yang mengeluhkan ”tak punya waktu untuk membaca”. Mengapa mereka tidak mensiasati membaca seperti yang dilakukan anakku? Ataukah memang sebenarnya mereka tidak suka membaca? Pada hal orang bijak pernah berkata ” orang yang membaca tak pernah sendiri”
Benarlah apa yang dinyatakan orang bijak itu. Kini diusiaku yang hampir 70 tahun, aku pulang dan menetap sendiri di kampung tidaklah merasa sepi. Anak-anakku dan adik-adikku mengatakan dengan yakin ” Beliau tidak akan kesepian, asal bisa membaca”. Yah betul begitu adanya, tetapi itu tidaklah gampang dan terjadi tidaklah secara instan.