MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN

BAB I

PENDAHULUAN

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 ayat 1, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang, dilaksanakan guru sebagai pendidik dapat memenuhi amanat peraturan pemerintah tersebut.

Proses belajar mengajar adalah proses komunikasi, yaitu penyampaian informasi dari sumber informasi kepada penerima melalui suatu media. Sumber informasi adalah guru dan penerima adalah siswa, serta media adalah segala sesuatu alat bantu yang digunakan untuk memperjelas pemahaman siswa. Ahmad Rohani (1997: 3) menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagai perantara/sarana/alat untuk proses komunikasi (proses belajar mengajar). Selanjutnya Ahmad Rohani (1997:1)menyatakan bahwa dalam proses belajar mengajar, media yang yang digunakan untuk memperlancar komunikasi belajar mengajar disebut media instruksional edukatif.

Guru sebagai pendidik yang profesional harus mampu berperan sebagai komunikator dan fasilitator bagi peserta didik di dalam kelasnya. Sebagai komunikator seorang guru harus mampu menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada siswa sebagaimana yang dinyatakan oleh Martinis Yamin (2007:7) bahwa mereka berperan sebagai komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non verbal.

Guru sebagai fasilitator dimaksudkan seorang guru harus mampu menjadi orang yang memfasilitasi atau melayani keperluan peserta didik di dalam kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang disampaikan oleh Martinis Yamin (2007:10), bahwa guru sebagai fasilitator memiliki peran menfasilitasi siswa-siswa untuk belajar secara maksimal dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media, dan sumber belajar.

Banyak hambatan yang ditemui oleh seorang guru sehubungan dengan fungsinya sebagai komunikator dan fasilitator tersebut. Salah satu faktor hambatan adalah sulitnya melakukan proses komunikasi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Guru kurang mampu menyampaikan pesan pembelajaran kepada siswa. Pembelajaran yang telah dilakukan guru selama ini belum mampu menarik perhatian siswa, sehingga terkesan siswa apatis terhadap materi pelajaran yang disapaikan oleh guru. Akibatnya siswa gagal memahami materi pembelajaran, dan guru mengalami kekecewaan dan ketidak puasan. Hal ini dapat teramati pada saat proses pembelajaran berlangsung, guru telah mengupayakan pembelajaran dengan menggunakan metode-metode yang bervariasi dan juga memanfaatkan media yang ada, tetapi siswa masih kelihatan kurang aktif dan tidak termotivasi. Jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru atau temannya sangat sedikit. Terkadang dalam satu kali tatap muka tak ada sama sekali siswa yang mengajukan pertanyaan. Hal ini mengakibatnya siswa gagal memahami materi pembelajaran, guru mengalami kekecewaan dan ketidak puasan.

Berdasarkan hal tersebut, adanya hambatan yang ditemukan guru dalam proses komunikasi pembelajaran disebabkan oleh kurang tepat dan menariknya media yang ditampilkan atau digunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu perlu dilakukan pemilihan media yang tepat dan menarik perlu dilakukan agar tercapai transfer ilmu pengetahuan dari guru terhadap siswa optimal dan menyenangkan. Sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini maka media yang dapat digunakan adalah multi media.

Menurut Sutisna dalam Chusnul Chotimah (2008: Jawa Pos), bahwa untuk hasil optimal dalam pembelajaran harus menyenangkan dan merangsang imajinasi serta kreativitas siswa. Penggunaan multimetode dan multimedia sangat membantu meningkatkan hasil belajar. Selanjutnya hasil penelitian Sugeng Priyanto (2008) dalam kompas menyimpulkan, dengan menggunakan multi media dalam pengajaran akan membantu mengondisikan suasana yang bisa memaksimalkan proses penerimaan suatu informasi dengan lebih baik.

Selanjutnya M.Suyanto (2005:340) menyatakan aplikasi multimedia antara lain sebagai perangkat lunak pengajaran, memberikan fasilitas untuk mahasiswa atau siswa untuk belajar mengambil keuntungan dari multimedia, belajar jarak jauh dan pemasaran pendidikan. Begitu juga Davies,Crowther dalam M.Suyanto (2005:340) menjelaskan bahwa penggunaan perangkat lunak multimedia dalam proses belajar mengajar akan meningkatkan efisiensi, meningkatkan motivasi, menfasilitasi belajar aktif, menfasilitasi belajar eksperimental, konsisten dengan belajar yang berpusat pada siswa, dan memandu untuk belajar lebih baik.

BAB II

MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN

Pembahasan dan penggunaan multimedia pada saat ini sudah sangat meluas dalam berbagai bidang. Bidang-bidang yang mengaplikasikan multi media meliputi bidang bisnis, hiburan, kesehatan, pemerintahan dan pendidikan. Khusus bidang pendidikan aplikasi multi media sebagai media pembelajaran harus dipahami oleh seorang guru dan digunakan dalam pembelajarannya. Aplikasi multi media dapat berfungsi sebagai alternatif media pembelajaran bagi guru dalam kelasnya.

Pembahasan tentang multi media sangat luas, maka pembahasan ini dibatasi dalam 4 hal yaitu : pengertian multi media dan pembelajaran; multimedia sebagai media pembelajaran; multimedia dan model pembelajaran; dan hambatan dalam pembelajaran multimedia.

2.1 Pengertian Multimedia dalam Pembelajaran

Pengertian multimedia secara sederhana dari dua kata yaitu multi berarti jamak atau banyak dan media berarti perantara atau yang menyampaikan. Pengertian ini berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi sehingga dapat bergeser maknanya dari pengertian kata-kata. Banyak pendapat para ahli tentang pengertian multimedia ini. Berikut adalah beberapa pengertian multimedia.

Menurut Hofstetter dalam M.Suyanto (2005:21), multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi, dan berkomunikasi. Menurut Azhar Arsyad (2007:171), arti multi media yang umumnya dikenal dewasa ini adalah berbagai macam kombinasi grafik, teks, suara, video, dan animasi. Penggabungan ini merupakan suatu kesatuan yang secara bersama-sama menampilkan informasi, pesan atau isi pelajaran. Menurut Geyeski dalam Elmi Mahzum (2008:13), multimedia adalah kumpulan media berasaskan komputer dan sistem komunikasi yang digunakan untuk membangun, menyimpan, menghantar dan menerima informasi berasaskan teks, grafik, audio dan sebaginya.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa multimedia itu mencakup : adanya komputer sebagai basis keseluruhan sistem; adanya informasi dalam berbagai bentuk audiovisual yang diam atau bergerak; interaktif ;pemakai dalam hal pembelajaran adalah guru dan penerima adalah siswa.

2.2 Multimedia sebagai Media Pembelajaran

Multimedia sebagai media pembelajaran tersedia dalam bentuk CD interaktif ataupun presentasi interaktif. Selain itu multimedia ada yang bersifat linear dan non linear. Multimedia interaktif adalah multimedia yang dapat membantu pengguna bisa melihat suatu aplikasi sesuai dengan keinginannya. Multimedia linear adalah multimedia yang dioperasikan tanpa dapat dipengaruhi oleh user (si pengguna), hanya sebagai penonton saja. Multimedia non linear adalah multi media yang dapat dipengaruhi oleh user dalam operasionalnya.

Kedua bentuk multimedia ini dapat digunakan dalam pembelajaran sebagai media pembelajaran, di mana pemakaiannya disesuaikan dengan materi dan karakteristik peserta didik. Guru sebagai komunikator dan fasilitator harus memliki kompetensi sekurang-kurangnya menggunakan aplikasi multimedia sebagi media pembelajaran. Akan lebih baik lagi jika guru mampu membuat aplikasi multimedia ini untuk pembelajarannya. Sebagaimana yang diamanatkan dalam Permen (Peraturan Menteri) Pendidikan Nasiona Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar kompetensi guru bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi inti mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelengaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.

Dalam pembuatan aplikasi pembelajaran menggunakan multimedia, pertama yang harus dilakukan adalah membuat konsep/struktur dari aplikasi tersebut. Pembuatan konsep atau struktur aplikasi ini harus mempertimbangkan hal-hal berikut: sifat interaktif, mutakhir, menarik, mudah dimengerti oleh siswa. Setelah itu baru proses pembuatan aplikasi dilakukan dengan menggunakan software yang diperlukan. Aplikasi multimedia yang dapat digunakan seperti power point, macromedia flash, dan macromedia director.

Menurut Elmi Mahzum (2008: 2), microsoft power point adalah media yang paling banyak digunakan sebagai media presentasi baik oleh korporat maupun oleh kalangan biasa. Power point bila dipelajari dengan seksama dapat dijadikan sebagai media untuk multimedia dalam batas-batas yang sederhana. Macromedia flash adalah microsoft yang lebih baik dari power point, merupakan gabungan konsep pembelaran dengan teknologi audiovisual yang mampu menghasilkan fitur-fitur baru yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan.

Pembuatan konsep/ struktur aplikasi multimedia menuntut kreatifitas dan daya imajinasi yang tinggi agar tujuan yang diharapkan tercapai. Kreatifitas ini dapat dimulai dengan meniru dan memodifikasi, maka dengan sendirinya ide dan kreatifitas akan muncul. Seorang guru dalam membuat multimedia dapat mencari informasi melalui referensi, tutorial, ataupun melalui akses internet.

2.3 Multimedia dan Model Pembelajaran

Dalam multimedia dan model pembelajaran ini akan dibahas bagaimana keterkaitan multimedia dengan model pembelajaran. Rancangan pembelajaran yang dibuat oleh guru guna pelaksanan proses pembelajaran harus memuat media dan model pembelajaran yang digunakan. Media yang dapat digunakan oleh guru di sini adalah multimedia. Model pembelajaran yang menggunakan multimedia dapat mengaplikasikan berbagai model dari model pembelajaran yang telah kita kenal.

Model pembelajaran mengandung makna adanya strategi, prosedur, metode atau cara yang digunakan dalam pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Menurut Depdiknas (2004:2), ada 2 alasan penggunaan model pembelajaran, yaitu (1) adanya penggunaan sejumlah keterampilan metodologis dan prosedural, seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan, melakukanpenelitian, bediskusi, meperdebatkan temuan, bekerja secara kolaboratif, menciptakan karya seni, dan melakukan presentasi; (2) adanya sintaks atau langkah-langkah pembelajaran yang menggambarkan alur proses pembelajaran.

Banyak model pembelajaran yang telah disampaikan oleh para ahli, masing-masing model akan memiliki kelebihan dan kelemahan. Guru harus jeli dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Terkait dengan adanya penggunaan multimedia dalam pembelajaran seorang guru juga harus memiliki kemampuan mengaplikasikan multimedia yang telah dipilih atau dirancang untuk disesuaikan dengan model pembelajaran yang telah ditetapkan dalam rancangan pembelajaran.

Beberapa model pembelajaran disampaikan oleh para ahli pendidikan pada dekade terakhir, seperti model pembelajaran langsung (direct instruction), ekspositori pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran dan lain-lain. Pada pembahasan berikut dibicarakan bagaimana cara mengintegrasikan multimedia ke dalam model-model pembelajaran tersebut.

Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang berpusat pada guru (oriented teacher). Materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa adalah materi pelajaran yang bersifat deklaratif dan prosedural. Hal ini dicontohkan dalam mata pelajaran IPA, untuk memperkenalkan bagian-bagian dan cara penggunaan mikroskop, alat ukur, simulasi kerja suatu alat. Untuk memperjelas informasi dan mempermudah pemahaman siswa, serta antisipasi jika kekurangan alat tersebut di suatu sekolah maka guru dapat menggunakan multimedia. Multimedia yang dirancang dapat menggunakan software power point. Guru membuat rancangan presentasi dalam bentuk power point yang memuat pengetahuan deklaratif dan prosedural yang dilengkapi dengan gambar-gambar dan animasi yang menarik, sehingga mempermudah siswa memahami materi pelajaran. Selain itu juga dipasaran telah tersedia program aplikasi multimedia yang telah jadi, guru hanya menyajikan saja lagi di hadapan siswanya.

Langkah-langkah pembelajaran pembelajaran langsung yang menggunakan multimedia dapat dilaksanakan dengan fase-fase sebagai berikut:

Fase 1, guru menyampaikan tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar. (Fase menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa). Fase ini dilakukan penayangan melalui presentasi power point oleh guru.

Fase2, guru mendemostrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap (fase mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan). Fase ini juga dilakukan penayangan melalui presentasi power point oleh guru.

Fase 3, guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal (memberi pelatihan awal). Seorang siswa diminta untuk mencoba mengulangi presentasi guru dengan bimbingan guru.

Fase 4, guru memeriksa keberhasilan siswa melakukan tugas seperti demonstrasi yang telah dilakukan guru (fase mencek pemahaman dan memberikan umpan balik). Hal ini dilaukan selama siswa presentasi.

Fase 5, guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dan penerapan kepada situasi yang lebih kompleks dalam kehidupan senari-hari (fase lanjutan dan penerapan). Guru meminta siswa lain untuk melakukan kembali presentasi dengan multimedia yang telah disiapkan oleh guru.

Model pembelajaran langsung ini mirip dengan model pembelajaran ekspository yang telah dilakukan Sugeng Priyanto dari Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Unibraw. Setelah pengujian statistik dan dilakukan perbandingan rerata hasil belajar, kelompok yang menggunakan aplikasi multimedia setelah perkuliahan mendapat rerata skor 7.37, sedangkan yang tidak mendapat 6.94. Hasil penelitiannya menunjukkan penggunaan multimedia dalam pengajaran mampu mengondisikan suasana belajar yang mamaksimalkan proses penerimaan suatu informasi dengan lebih baik. Dan model belajar “ekspository teaching” baik, di mana dalam model ini dikenal tiga tahap. Pertama, mengarahkan pelajar pada materi yang akan dipelajari dan membantu mengingat kembali informasi yang terkait. Tahap kedua, materi baru disampaikan dengan memberi ceramah, diskusi film, atau memberi tugas kepada pelajar. Tahap ketiga, dengan menggabungkan informasi baru ke dalam susunan pelajaran yang sudah direncanakan dan memberi kesempatan pelajar melontarkan pertanyaan untuk memperluas pengetahuan terkait. (Kompas.com).

Pembelajaran koperatif (cooperative learning) adalah pembelajaran yang tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi juga ketrampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Model pembelajaran ini dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Muslimin Ibrahim, dkk:2000:2).

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif yang menggunakan multimedia dapat dilaksanakan dengan fase-fase sebagai berikut:

Fase1: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar (menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa)

Fase 2: guru menyajikan informasi kepada siswa dengan dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan (menyajikan informasi), presentasi dengan multimedia

Fase 3: guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan secara transisi secara efisien (mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Fase 4: guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka ( membimbing kelompok kelompok bekerja dan belajar). Tugas dapat diberikan dalam bentuk membuat presentasi secara sederhana dengan multimedia. Hal ini dapat dilakukan jika siswa telah belajar MS Power point dalam pembelajaran mata pelajaran TIK. Fase ini dapat dilakukan jika sekolah telah memiliki laboratorium komputer.

Fase 5: guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari tentang atau masing-masing kelompok mempresentasikan karya kelompoknya (evaluasi) dengan menggunakan komputer dan LCD.

Fase 6: guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok (memberikan penghargaan)

Jika tidak memungkinkan dilakukan pembelajaran seperti model di atas juga dapat dilakukan penugasan rumah siswa membuat presentasi dengan multimedia, dan pada pertemuan tatap muka kelompok siswa hanya mempresentasikan saja.

Model pembelajaran berbasis masalah (problem based instruction) adalah pembelajaran pembelajaran yang mengharapkan siswa mampu memecahkan masalah dan menerapkan hasil pembelajaran sebelumnya pada situasi yang baru. Sebagaimana pernyataan (Herawati Susilo:2000) pemecahan masalah dianggap sebagai hasil belajar yang paling tinggi karena bila seseorang telah berhasil memecahkan masalahitu, mampu menerapkan cara itu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dan mengetahui jawaban masalahnya.

Model pembelajaran ini dikenal juga dengan model penelitian. Siswa diharapkan mampu melakukan penelitian yang beranjak dari permasalahan yang mereka temukan atau diajukan oleh guru untuk dipecahkan dan diterapkan ke dalam suasana baru. Sehingga pada akhirnya siswa memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Sebagaimana penjelasan (Herawati susilo: 2000) dalam menerapkan model ini seseorang dapat memulai dari sederhana ke kompleks namun bisa dimulai dari masalah yang kompleks untuk selanjutnya diharapkan siswa memiliki keterampilan-keterampilan sederhana.

Sintaks model pembelajaran ini terdiri dari :

Fase1: guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih (orientasi siswa kepada masalah)

Fase 2: guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (mengorganisasikan siswa untuk belajar)

Fase 3 : guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan pemecahan masalah (membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Fase 4: guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan teman (mengembangkan dan menyajikan hasil karya) dalam bentuk multimedia

Fase 5: guru membantu siswa untuk merefleksi atau mengevaluasi penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan (menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah)

Berdasarkan penjelasan di atas, untuk berbagai model pembelajaran dapat diaplikasi multimedia. Penggunaan multimedia dalam berbagai model pembelajaran ini dapat dilakukan degan memperhatikan fase-fase atau langkah-langkah pembelajaran. Penggunaan multimedia ini disesuaikan dengan langkah-langkah model pembelajaran tersebut

2.4 Hambatan dalam Penggunaan Multimedia

Penggunaan multimedia dalam pembelajaran sekarang ini dirasakan oleh guru akan banyak membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Banyak kemudahan yang diperoleh, seperti menjelaskan konsep abstrak dapat dijadikan konkrit. Guru dapat mengefesien dan mengefektifkan waktu pembelajaran. Selain itu pembelajaran akan lebih menarik bagi siswa. Informasi atau pesan yang disampaikan oleh guru kepada siswanya melalui multimedia akan lebih mudah dipahami sehingga pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa itu sendiri.

Berdasarkan penjelasan di atas kelihatannya proses dapat berjalan dengan mulus jika multimedia diaplikasikan dalam pembelajaran. Tetapi hambatan tetap ditemukan dalam pengplikasian multimedia ini dalam pembelajaran. Hambatan-hambatan yang ditemukan dapat bersifat teknis, filosofis, dan sosial.

Hambatan yang bersifat teknis dikarenakan adanya masalah teknis, seperti ketersediaan komputer atau laptop dan LCD di sekolah. Ada sekolah yang sama sekali tidak memiliki peralatan ini, meskipun gurunya memiliki kemampuan untuk menggunakan multimedia dalam pembelajarannya. Ada juga sekolah yang telah memiliki peralatan ini tetapi guruya yang belum mampu menggunakan multimedia untuk pembelajarannya. Kadangkala juga ada sekolah yang telah memiliki peralatan dan guru telah mampu menggunakan multimedia, tetapi listrik sebagai sumber energi utama dalam penggunaan peralatan multimedia ini tidak tersedia di kelas.

Hambatan yang bersifat filosofis adalah hambatan yang terkait dengan filosofis pembelajaran. Filosofis pembelajaran terkait dengan teori-teori yang mendasari pembelajaran. Menurut teori pembelajaran konstruktivisme, guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam dirinya. Peran guru adalah memberi kemudahan dalam proses belajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, mengajar siswa menjadi sadar dengan kemampuan dirinya dan menerapkan strategi belajar mereka sendiri. Sementara itu pembelajaran degan multimedia terkesan siswa hanya memperhatikan penayangan-penayangan yang disajikan guru. Kesempatan siswa untuk menyampaikan ide-ide mereka hanya sedikit.

Hal ini dikemukan oleh Marsel Ruben Payong (2001:Sinar Harapan), materi yang berwujud pengetahuan atau keterampilan yang hendak dicapai oleh siswa harus dirancang secara jadi oleh para pengembang instruksional dan dikemas dalam teknologi multimedia ini. Pengetahuan haruslah tidak terstruktur dan dibentuk sendiri oleh siswa. Belajar adalah suatu interpretasi personal terhadap pengalaman dan kenyataan hidup yang dialami.

Selain itu penilaian proses, sebagai penilaian selama proses belajar berlangsung tidak dapat dilaksanakan oleh guru. Selanjutnya untuk mata pelajaran yang bersifat keterampilan, di mana perlu dicermati tahap-tahap kerja yang harus dilakukan siswa juga tidak dapat dilakukan. Hal ini dikarenakan pembelajaran yang menggunakan multimedia disusun dan dirancang biasanya terpusat kepada multimedia itu sendiri.

Hambatan yang bersifat sosial, yaitu hambatan yang besifat hubungan/interaksi antar satu individu dengan individu yang lain. Interaksi yang dimaksudkan adalah interaksi guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan siswa dalam kelas. Interaksi-interaksi ini sangat kecil kemungkinan terjadi saat pembelajaran berlangsung, karena siswa terpusat perhatiannya kepada multimedia itu sendiri. Hal ini juga dikemukakan oleh Marsel Ruben Payong (2008: Sinar Harapan),banyak kritik yang telah dilontarkan terhadap pembelajaran multimedia sebagai pembelajaran yang bersifat isolatif sehingga bertentangan dengan tujuan sosial dari sekolah. Siswa seolah-olah dikondisikan untuk menjadi individualis-individualis dan kontak sosial dengan teman-teman menjadi sesuatu yang asing.

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Multimedia itu mencakup: adanya komputer sebagai basis keseluruhan sistem; adanya informasi dalam berbagai bentuk audiovisual yang diam atau bergerak; interaktif ;pemakai dalam hal pembelajaran adalah guru dan penerima adalah siswa. Multimedia sebagai media pembelajaran tersedia dalam bentuk CD interaktif ataupun presentasi interaktif. Aplikasi multimedia yang dapat digunakan seperti power point, macromedia flash, dan macromedia director. Microsoft power point adalah media yang paling banyak digunakan sebagai media presentasi.

Multimedia dapat digunakan untuk berbagai bentuk model pembelajaran. Menggunakan multimedia dalam berbagai model pembelajaran ini dapat dilakukan degan memperhatikan fase-fase atau langkah-langkah pembelajaran. Penggunaan multimedia ini disesuaikan dengan langkah-langkah model pembelajaran tersebut.

Ada beberapa hambatan ditemukan dalam pengplikasian multimedia dalam pembelajaran. Hambatan-hambatan yang ditemukan dapat bersifat teknis, filosofis, dan sosial.

3.2 Saran-saran

Banyak hambatan yang ditemui oleh seorang guru sehubungan dengan tugasnya sebagai fasilitator dan komunikator ini. Upaya yang dapat dilakukan oleh seorang guru mengatasi hambatan ini adalah dengan mengupayakan media yang dapat merangsang imajinasi serta kreativitas siswa. Salah satu media yang dapat digunakan adalah multimedia. Selain sebagi media, multimedia juga dapat diintegrasikan ke dalam model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajarnya.

Bagi guru yang telah memiliki kemampuan untuk merancang sendiri presentasi dengan multimedia yang akan digunakan pada pembelajarannya akan lebih baik. Jika guru belum memiliki kemampuan untuk merancang sendiri, minimal telah mampu menggunakan presentasi dari berbagai program yang telah tersedia di pasaran.

Pembelajaran yang menggunakan multimedia belum tentu berjalan mulus tanpa hambatan, bisa saja dalam pelaksanaanya ada hambatan-hambatan. Maka di sini diharapkan kejelian guru untuk mencoba mengantisipasi hambatan yang ditemui, sehingga pelaksanaan pembelajaran dengan multimedia tetap berjalan sesuai dengan harapan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

……………….. 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

……………….. 2004. Materi Pelatihan Teintegrasi Sains. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

……………….. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru

……………. Penggunaan Multimedia Terbukti tingkatkan Nilai Siswa. Kompas.com. Rabu, 9 Juli 2008

Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: Penerbit, PT Raja Grafindo Persada

Chotimah, Chusnul. 2008. Macromedia Flash sebagai Media Pembelajaran. Jawa Pos Edisi 21 Januari 2008.

Ibrahim, Muslimin,dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Mahzum, Elmi. 2008. Pengenalan Multimedia. Aceh: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Negeri Surabaya

Payong, Marsel Ruben.2001. Beberapa Masalah dalam Pembelajaran Multimedia.Jakarta:Sinar Harapan

Rohani, Ahmad.1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta : Penerbit, Rineka Cipta

Susilo, Herawati. 2000. Kapita Selekta Pembelajaran Biologi. Jakarta: Universitas Terbuka

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.